Tuesday, October 31, 2006


LAPORAN PERJALANAN UMRAH
Ini cerita laporan saya saat melaksanakan ibadah Umrah, dimuat di Harian Tribun Jabar secara bersambung 6 tulisan. Sebenarnya saya merencanakan untuk membuat 13 tulisan bersambung. Berhubung keterbatasan ruang dan kalau terlalu lama, jadi bosen, laporan disingkat hanya 6 tulisan. Sayang memang, karena banyak kejadian yang tidak sempat tertuang dalam tulisan di Tribun. Dan saya keburu malas untuk menulis ulang apa saja yang dialami selama di Tanah Suci, Mekah Almukarromah. Namun tetap tak bisa terlupakan, apalagi dilupakan. Rasanya dinding Kakbah dan kain Kiswah itu masih melekat di pipi, wajah, hidung, dan dibasahi air mata yang deras mengalir.

Ibadah Umrah di Musim Liburan (1)
PADA 9-17 Juli lalu, Tribun berkesempatan melaksanakan ibadah umrah bersama dengan rombongan jemaah umrah Qiblat Tour. Waktu pelaksanaan merupakan pekan terakhir masa liburan pelajar. Bertepatan dengan itu, di Timur Tengah juga tengah berlangsung musim liburan. Karenanya, suasananya cukup dipadati jemaah walau
Berikut petikan perjalanan selama di Tanah Haramain:
==============
"Zidane, Moeslem, Good"
SETELAH tertunda selama tiga setengah jam, akhirnya sekitar pukul 12.30, bus yang mengangkut 28 orang jemaah umrah Qiblat Tour meninggalkan Kota Bandung menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Saat itu, Minggu 9 Juli. Cuaca cerah dan . Perjalanan Bandung-Jakarta terasa singkat. Selain karena bus melaju cepat di jalan tol, "asupan" berupa siraman rohani dan kisah-kisah ringan seputar ibadah haji diselingi humor-humor segar yang dilontarkan KH Olih Komarudin dan Pak Sodik, sang khadim alias pelayan jemaah, membuat perjalanan tak terasa lama.
Tiba di Bandara Soekarno Hatta, perlu waktu cukup lama menunggu pesawat
Akhirnya pesawat Boeing 747 milik maskapai Saudi Arabian Airlines datang juga. Setelah "memuntahkan" para penumpang dan dibersihkan, pesawat itu pun siap menampung penumpang kloter berikutnya tujuan Madinah.
Sekitar pukul 21.12 WIB, pesawat Saudi Arabian Airlines pun take off, meninggalkan Jakarta. Saya duduk di seat nomor 21 C. Tempatnya berada di lantai atas. Saya duduk sebaris dengan Furqon, pegawai bagian rumah tangga Gedung Pakuan. Bersama 7 rekannya, ia turut rombongan umrah Qiblat Tour.
Di sebelah kiri Furqon, duduk manis seorang pria Arab. Dia memakai pakaian gamis warna putih. Orangnya tampak ramah. Walau tak paham Bahasa Arab, kami mencoba berkomunikasi dengan pria ini, tentunya dengan bahasa tarzan yang lebih efektif. "Indonesia? Umrah? Masya Allah," begitu komentar lelaki Arab ini saat tahu kami akan melaksanakan ibadah umrah.
Usai makan malam, Ali, demikian nama pria Arab itu, mengambil koran berbahasa Arab yang terletak di samping tempat duduk. Lembaran demi lembaran koran ia buka dan baca. Nah, saat lembaran olahraga ia buka, perhatian saya dan Furqon juga tertuju pada lembaran itu. Maklum, di halaman itu terpampang foto Zidane cukup besar. Serta merta Furqon pun menunjuk foto Zidane itu
"Oh Zidane, moeslem, good," kata Ali sambil mengacungkan jempolnya. Hm, rupanya dia menjagokan Prancis, karena di sana ada seorang Zinedine Zidane yang muslim. Ekspresi Ali menunjukkan dirinya sangat bangga dengan Zidane. Namun saat ditanya soal Italia, Ali malah membalikkan jempol ke bawah tanda tak mendukung.
Ya, bagi penggemar bola, tentu saja waktu itu adalah saat yang ditunggu-tunggu. Ketika saya mengudara menuju Madinah, saat bersamaan tengah berlangsung pertandingan final Piala Dunia 2006 antara Prancis melawan Italia. Ini tontonan puncak paling ditunggu setelah satu bulan penuh berlangsung pertandingan penyisihan hingga semifinal.
Saking inginnya menonton bola, seorang rekan satu rombongan, Ferry Kurnia, menanyakan kepada pramugari apakah televisi di pesawat bisa menyiarkan pertandingan bola. Tentu saja jawaban sang pramugari adalah tidak. Mungkin inilah ujian bagi jemaah umrah yang gila bola. Saat hendak menunaikan ibadah, justru ada ada pertandingan sepakbola terakbar sejagat yang terus menggugah rasa penasaran dan membayangi lamunan selama di pesawat.
Kabar itu pun datang. Ketika roda pesawat jumbo itu menyentuh landasan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah setelah mengudara selama 8 jam 33 menit, sejumlah rekan membuka handphone. Dari situlah diketahui bagaimana hasil pertandingan final Piala Dunia 2006. "Wah, Italia menang euy, adu penalti 5-3, Zidane dikartumerah," seru Ferry. Rupanya harapan Ali melihat Prancis tak jadi kenyataan. Bahkan pemain pujaannya, Zidane, dikeluarkan wasit dari lapangan hijau karena menanduk dada Marco Matterazi.
Jam menunjukkan pukul 01.45 Waktu Arab Saudi (WAS). Di Bandara Madinah ini, rombongan Qiblat Tour disambut seorang lelaki berpeci putih berperawakan gendut. Dia adalah H Bahrul Ulum, akrab disapa Pak Oking (42). Pak Oking --yang asli urang Pasirwangi Garut-- inilah yang akan menjadi operator atau guide selama di Madinah dan Mekkah. Lidahnya fasih berbahasa Arab. Tak heran, karena dia sudah menginjak tanah Arab sejak tahun 80-an.
Setelah pengurusan di bagian imigrasi dan bagasi beres, dengan dipandu Pak Oking, rombongan pun meninggalkan bandara. Memakai bus Saptco, rombongan menuju Hotel Al Fayroz, tak jauh dari gate no 25 Mesjid Nabawi.
Saat masuk hotel, hal pertama yang dicari adalah televisi di lobi hotel. Siapa tahu masih ada saluran televisi yang menyiarkan pertandingan tunda final Piala Dunia. Ternyata, perhatian semua orang di lobi hotel juga tertuju ke televisi. Saat itu tengah ditayangkan cuplikan pertandingan, gol, dan perayaan kemenangan tim Italia.
Karena sudah yakin Italia jadi juara dunia untuk keempat kalinya, saya pun bergegas menyimpan koper di kamar hotel no 1206. Lalu dengan terburu-buru, saya bersama rekan-rekan seperjalanan pergi ke Mesjid Nabawi, tak mau tertinggal melaksanakan salat Subuh berjemaah.
Hari itu, kegiatan rombongan Qiblat Tour adalah berziarah ke makam Rasulullah SAW dan Raudhah. Raudhah ini adalah sebuah tempat di samping makam Rasul yang dianggap mustajab untuk berdoa. Saya berkesempatan salat di tempat ini. Bahkan salat di sebuah tempat kecil yang disebut sebagai musala atau tempat Rasulullah biasa salat. Usai ziarah, rombongan kembali ke hotel dan lebih banyak beraktivitas di kamar, kecuali saat tiba waktu salat.
Kesempatan itu akhirnya dipakai untuk menonton televisi, seperti Saudi MBC, yang masih menyiarkan tayangan ulang final Piala Dunia. Cuma stasiun TV Al Jazeera yang tidak tertarik menyiarkan siaran langsung atau tunda final itu. Al Jazeera secara konsisten menayangkan terus penyerangan tentara Israel secara membabi-buta ke daerah Lubnan atau Libanon. Di Kota Nabi yang diberkahi ini, saya menyaksikan porak-porandanya negeri Libanon. (machmud mubarok)

Haji Kecil


LAPORAN PERJALANAN UMRAH
Ini cerita laporan saya saat melaksanakan ibadah Umrah, dimuat di Harian Tribun Jabar secara bersambung 6 tulisan. Sebenarnya saya merencanakan untuk membuat 13 tulisan bersambung. Berhubung keterbatasan ruang dan kalau terlalu lama, jadi bosen, laporan disingkat hanya 6 tulisan. Sayang memang, karena banyak kejadian yang tidak sempat tertuang dalam tulisan di Tribun. Dan saya keburu malas untuk menulis ulang apa saja yang dialami selama di Tanah Suci, Mekah Almukarromah. Namun tetap tak bisa terlupakan, apalagi dilupakan. Rasanya dinding Kakbah dan kain Kiswah itu masih melekat di pipi, wajah, hidung, dan dibasahi air mata yang deras mengalir.

Ibadah Umrah di Musim Liburan (1)
PADA 9-17 Juli lalu, Tribun berkesempatan melaksanakan ibadah umrah bersama dengan rombongan jemaah umrah Qiblat Tour. Waktu pelaksanaan merupakan pekan terakhir masa liburan pelajar. Bertepatan dengan itu, di Timur Tengah juga tengah berlangsung musim liburan. Karenanya, suasananya cukup dipadati jemaah walau
Berikut petikan perjalanan selama di Tanah Haramain:
==============
"Zidane, Moeslem, Good"
SETELAH tertunda selama tiga setengah jam, akhirnya sekitar pukul 12.30, bus yang mengangkut 28 orang jemaah umrah Qiblat Tour meninggalkan Kota Bandung menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Saat itu, Minggu 9 Juli. Cuaca cerah dan . Perjalanan Bandung-Jakarta terasa singkat. Selain karena bus melaju cepat di jalan tol, "asupan" berupa siraman rohani dan kisah-kisah ringan seputar ibadah haji diselingi humor-humor segar yang dilontarkan KH Olih Komarudin dan Pak Sodik, sang khadim alias pelayan jemaah, membuat perjalanan tak terasa lama.
Tiba di Bandara Soekarno Hatta, perlu waktu cukup lama menunggu pesawat
Akhirnya pesawat Boeing 747 milik maskapai Saudi Arabian Airlines datang juga. Setelah "memuntahkan" para penumpang dan dibersihkan, pesawat itu pun siap menampung penumpang kloter berikutnya tujuan Madinah.
Sekitar pukul 21.12 WIB, pesawat Saudi Arabian Airlines pun take off, meninggalkan Jakarta. Saya duduk di seat nomor 21 C. Tempatnya berada di lantai atas. Saya duduk sebaris dengan Furqon, pegawai bagian rumah tangga Gedung Pakuan. Bersama 7 rekannya, ia turut rombongan umrah Qiblat Tour.
Di sebelah kiri Furqon, duduk manis seorang pria Arab. Dia memakai pakaian gamis warna putih. Orangnya tampak ramah. Walau tak paham Bahasa Arab, kami mencoba berkomunikasi dengan pria ini, tentunya dengan bahasa tarzan yang lebih efektif. "Indonesia? Umrah? Masya Allah," begitu komentar lelaki Arab ini saat tahu kami akan melaksanakan ibadah umrah.
Usai makan malam, Ali, demikian nama pria Arab itu, mengambil koran berbahasa Arab yang terletak di samping tempat duduk. Lembaran demi lembaran koran ia buka dan baca. Nah, saat lembaran olahraga ia buka, perhatian saya dan Furqon juga tertuju pada lembaran itu. Maklum, di halaman itu terpampang foto Zidane cukup besar. Serta merta Furqon pun menunjuk foto Zidane itu
"Oh Zidane, moeslem, good," kata Ali sambil mengacungkan jempolnya. Hm, rupanya dia menjagokan Prancis, karena di sana ada seorang Zinedine Zidane yang muslim. Ekspresi Ali menunjukkan dirinya sangat bangga dengan Zidane. Namun saat ditanya soal Italia, Ali malah membalikkan jempol ke bawah tanda tak mendukung.
Ya, bagi penggemar bola, tentu saja waktu itu adalah saat yang ditunggu-tunggu. Ketika saya mengudara menuju Madinah, saat bersamaan tengah berlangsung pertandingan final Piala Dunia 2006 antara Prancis melawan Italia. Ini tontonan puncak paling ditunggu setelah satu bulan penuh berlangsung pertandingan penyisihan hingga semifinal.
Saking inginnya menonton bola, seorang rekan satu rombongan, Ferry Kurnia, menanyakan kepada pramugari apakah televisi di pesawat bisa menyiarkan pertandingan bola. Tentu saja jawaban sang pramugari adalah tidak. Mungkin inilah ujian bagi jemaah umrah yang gila bola. Saat hendak menunaikan ibadah, justru ada ada pertandingan sepakbola terakbar sejagat yang terus menggugah rasa penasaran dan membayangi lamunan selama di pesawat.
Kabar itu pun datang. Ketika roda pesawat jumbo itu menyentuh landasan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah setelah mengudara selama 8 jam 33 menit, sejumlah rekan membuka handphone. Dari situlah diketahui bagaimana hasil pertandingan final Piala Dunia 2006. "Wah, Italia menang euy, adu penalti 5-3, Zidane dikartumerah," seru Ferry. Rupanya harapan Ali melihat Prancis tak jadi kenyataan. Bahkan pemain pujaannya, Zidane, dikeluarkan wasit dari lapangan hijau karena menanduk dada Marco Matterazi.
Jam menunjukkan pukul 01.45 Waktu Arab Saudi (WAS). Di Bandara Madinah ini, rombongan Qiblat Tour disambut seorang lelaki berpeci putih berperawakan gendut. Dia adalah H Bahrul Ulum, akrab disapa Pak Oking (42). Pak Oking --yang asli urang Pasirwangi Garut-- inilah yang akan menjadi operator atau guide selama di Madinah dan Mekkah. Lidahnya fasih berbahasa Arab. Tak heran, karena dia sudah menginjak tanah Arab sejak tahun 80-an.
Setelah pengurusan di bagian imigrasi dan bagasi beres, dengan dipandu Pak Oking, rombongan pun meninggalkan bandara. Memakai bus Saptco, rombongan menuju Hotel Al Fayroz, tak jauh dari gate no 25 Mesjid Nabawi.
Saat masuk hotel, hal pertama yang dicari adalah televisi di lobi hotel. Siapa tahu masih ada saluran televisi yang menyiarkan pertandingan tunda final Piala Dunia. Ternyata, perhatian semua orang di lobi hotel juga tertuju ke televisi. Saat itu tengah ditayangkan cuplikan pertandingan, gol, dan perayaan kemenangan tim Italia.
Karena sudah yakin Italia jadi juara dunia untuk keempat kalinya, saya pun bergegas menyimpan koper di kamar hotel no 1206. Lalu dengan terburu-buru, saya bersama rekan-rekan seperjalanan pergi ke Mesjid Nabawi, tak mau tertinggal melaksanakan salat Subuh berjemaah.
Hari itu, kegiatan rombongan Qiblat Tour adalah berziarah ke makam Rasulullah SAW dan Raudhah. Raudhah ini adalah sebuah tempat di samping makam Rasul yang dianggap mustajab untuk berdoa. Saya berkesempatan salat di tempat ini. Bahkan salat di sebuah tempat kecil yang disebut sebagai musala atau tempat Rasulullah biasa salat. Usai ziarah, rombongan kembali ke hotel dan lebih banyak beraktivitas di kamar, kecuali saat tiba waktu salat.
Kesempatan itu akhirnya dipakai untuk menonton televisi, seperti Saudi MBC, yang masih menyiarkan tayangan ulang final Piala Dunia. Cuma stasiun TV Al Jazeera yang tidak tertarik menyiarkan siaran langsung atau tunda final itu. Al Jazeera secara konsisten menayangkan terus penyerangan tentara Israel secara membabi-buta ke daerah Lubnan atau Libanon. Di Kota Nabi yang diberkahi ini, saya menyaksikan porak-porandanya negeri Libanon. (machmud mubarok)

Ini Riwayat Para Pemberani

Tuesday, August 22, 2006

Umrah ke Baitullah

Alhamdulilllah, 9 Juli sampai 17 Juli 2006 saya berkesempatan untuk Umrah ke Baitullah. Keberangkatan saya ke Tanah Haramain ini jelas di luar dugaan, tapi pasti dalam rencana Allah SWT. Pertengahan Juni, saya dan istri sedang menunggu Bila, anak kami, yang sedang dirawat di RSU Cibabat Cimahi. Dia sakit infeksi saluran kencing. Rabu sore, saya lupa tanggalnya, mampir sebuah pesan pendek. Saya lihat dari Kang Yusran, pimpinan saya di kantor. Isinya singkat "Mac, kamu mendapat tugas khusus. Nanti malam saya kontak kamu". Membaca isinya, saya sempat suuzon. "Wah, jangan-jangan saya jadi nih dilempar ke Batam atau Riau". Istriku sempat sewot mendengar itu. "Masa anak lagi sakit, mesti berangkat ke luar pulau. Gak boleh ah". Akhirnya malam itu, saya kontak Kang Yusran. Ternyata, sungguh kabar gembira yang mampir. Saya disuruh berangkat Umrah ke Baitullah. Kata Kang Yusran, sore itu harus diputuskan segera siapa yang harus berangkat, dan forum rapat menunjuk saya. Alhamdulillah Ya Rabb. Maafkan saya yang telah berburuk sangka. Ternyata Allah SWT punya rencana lain. Tak terduga memang. Awal tahun 2006, memang saya sempat meniatkan untuk menabung buat naik haji. Perkiraan saya, tahun 2010 atau 2011 uang terkumpul dan cukup buat naik haji. Rupanya Allah SWT mempercepat niat itu. Umrah pun bagian dari haji dan tentu harus disyukuri. Karena saya tak perlu keluar uang untuk Umrah ini. Gratis, semuanya gratis, kecuali bikin paspor. Itu pun hanya Rp 260.000 plus Rp 100.000 buat tip ajudan Kepala Imigrasi yang ngurus paspor super cepat itu. Travel yang membawa saya ke Tanah Suci adalah PT Qiblat Tour. Ini biro umrah dan haji di bawah komando Pak Wawan Misbach dan Sodik Mudjahid. Alhamdulillah, Minggu 9 Juli, saya pun mengangkasa pake Saudi Airlines menuju Madinah. Cerita selanjutnya soal gimana umrah itu, baca posting berikut. Jazakallah, Maha Suci Engkau Ya Rabb...

Tuesday, November 01, 2005

Aceh Lon Sayang

Aceh. Wilayah “perang” yang luluh lantak diterjang Tsunami ini menjadi tujuan perjalananku kali ini. Tsunami-lah yang mengundangku untuk bersua dengan kelamnya kehidupan masyarakat Aceh. Konflik berkepanjangan membuat sebagian besar masyarakat tak peduli lagi dengan kondisi di kiri kanan. Kedatangan relawan tak selamanya disambut manis.


Berikut ini berita-berita dan tulisan yang sempat dikirimkan ke Tribun Jabar selama di perjalanan dan di Aceh.

Laporan dari Tarutung

Mobil Relawan Jabar Masuk Jurang

BENTUK BANTUAN
* Pakaian * Sepatu * Obat﷓obatan * Air Mineral * Bibit Palawija 4 Kwintal * Bibit Padi 4 Kwintal * Beras, Gula Pasir, Kopi, Kornet

ANGGOTA ROMBONGAN
* 13 Truk dan 4 Kijang * 14 Relawan Termasuk Mang Ihin * 12 Prajurit Kodam III/Siliwangi

Tarutung, Metro
Rombongan Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan mantan Gubernur Jabar Letjen (Purn) Solihin GP, yang tengah dalam perjalanan menuju Kota Meulaboh, Provinsi NAD, Kamis (20/1) siang, mengalami kecelakaan.
Salah satu mobil Toyota Kijang pengangkut relawan Jabar jungkir balik ke jurang sedalam 15 meter di ruas jalan berliku Pegunungan Bukit Barisan antara Sipirok-Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Laporan Machmud Mubarok, wartawan Metro yang menyertai perjalanan JPA menyebutkan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 14.00. Lokasi persisnya di tikungan antara Desa Pacorna Pitu dengan Desa Simasom, Kecamatan Siatas Barita, Tapanuli Utara.
Mobil yang celaka adalah Toyota Kijang Grand nopol D 1352 DZ. Waktu itu dikemudikan Soesmaryoto. Selain Soesmaryoto, dalam mobil itu ada Syafei dari JPA, dan Rabin, sopir cadangan salah satu truk pengangkut bantuan.
Sopir dan penumpang Kijang luput dari maut, hanya luka ringan. Mang Ihin dan anggota rombongan sisanya, termasuk 12 prajurit Kodam III/Siliwangi yang mengawal tak kurang suatu apa.
Mobil naas itu sendiri rusak berat di kabin depan, dan terpaksa ditinggalkan di Mapolres Tapanuli Utara di Kota Tarutung. Mang Ihin sebagai pimpinan rombongan meminta perjalanan terus dilanjutkan.
"Kita ambil pelajarannya saja. Perjalanan memang berat, banyak jalan rusak. Jadi sopir-sopir lain harus lebih waspada dan hati-hati mengingat perjalanan masih jauh," kata pria sepuh yang masih terlihat perkasa ini.
"Perkiraan besok pagi (Jumat pagi, Red) kita baru bisa masuk Aceh. Malam ini (tadi malam) kita coba ke Sidikalang. Mobil yang rusak ditinggal dulu di Tarutung, nanti kita bawa pulang setelah tugas beres," kata Mang Ihin kepada wartawan koran ini.
Senin (17/1) pagi, tim relawan dari JPA diberangkatkan Gubernur Jabar Danny Setiawan dari halaman Gedung Sate. Turut melepas waktu itu Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Iwan R Sulandjana dan Ketua DPRD Jabar HAM Ruslan.
Tim JPA menempuh jalan darat, dan diperkirakan sampai Meulaboh kira-kira 5 hari kemudian. Tapi sampai hari ke-4 kemarin, rombongan baru sampai Tarutung.
Dari kota itu, jarak ke Meulaboh masih ratusan kilometer, melewati kota-kota antara lain Sidikalang, Tapaktuan, dan Blangpidie bila menyisir pantai barat Pulau Sumatera.
Menurut rencana awal, JPA akan berada di Meulaboh selama seminggu dan memberikan bantuan sebanyak 13 truk.
Satu truk khusus membawa bantuan bibit jagung sebanyak 4 kwintal dan bibit padi 4 kwintal, beras, gula pasir, kopi, kornet dan kebutuhan pokok lain.
Sejak berangkat dari Gedung Sate hingga Merak, menyeberang ke Lampung dan kemudian melintasi jalur lintas tengah (jalinteng) Pulau Sumatera, sebetulnya tak ada hambatan berarti.
Kecuali, lintasan jalan yang rusak berat antara Lahat-Tebingtinggi di Sumsel. Jalan di ruas itu rusak berat, berlubang, bahkan kedalaman lubang ada yang mencapai 1,5 meter.
"Selebihnya lancar dan kita memang jalan nonstop. Istirahat paling saat makan," lapor Machmud Mubarok yang ketika dihubungi tengah istirahat di tepi Danau Singkarak, Sumatera Barat, Rabu (19/1) siang.(*/xna)




Nonstop Menuju Meulaboh
SAAT laporan ini dibaca, saya mungkin ada di Sidikalang, Sumut, atau barangkali sudah meninggalkan kota itu menembus perbatasan Sumut-Aceh. Empat hari sudah saya dan rombongan dari Jabar Peduli Aceh (JPA) dan tim pendukung mengarungi perjalanan berat.
Tujuan kami Meulaboh, kota pesisir Aceh yang nyaris musnah disapu gelombang tsunami, 26 Desember lalu. Meski berat, perjalanan kami terasa ringan karena tujuan kami pasti, membantu saudara-saudara kami yang tengah didera bencana.
Kegigihan Mang Ihin juga melecut kami. Beliau sudah sepuh, tapi semangatnya masih menyala-nyala. Sungguh saya takjub jarak beratus kilometer lewat gunung hutan pegunungan Bukit Barisan masih sanggup dibabat Mang Ihin.
Berangkat dari Gedung Sate, Senin (17/1) pagi, perjalanan sangat lancar hingga siang kami menyeberang ke Lampung. Berhenti sebentar makan siang, konvoi 13 truk dan 4 mobil Kijang melaju ke Kotabumi.
Perjalanan terus dilanjutkan menuju Martapura kemudian Baturaja. Beberapa kali berhenti untuk menyatukan rombngan kendaraan yang tercerai berai, konvoi digenjot nonstop menuju Lahat dan Tebingtinggi.
Rute Lahat-Tebingtinggi inilah yang terasa sangat berat. Jalan rusak, berlubang di sana-sini, membuat perjalanan tersendat-sendat. Tapi alhamdulillah, kami semua bisa lepas dari jalur maut itu menuju Solok.
Di kota ini baru kami sempat berhenti agak lama, makan, dan kemudian melaju ke Singkarak. Tigabelas truk pengangkut bantuan ditinggal di Solok untuk servis mesin, ganti oli dan ada beberapa yang ganti ban.
Malamnya kami bergabung di Singkarak, dan melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Laju kami tak tertahankan hingga Lubuksikaping, Kotanopan, Padangsidempuan, hingga Sipirok, Kamis (20/1).
Rupanya di rute berikutnya ini, antara Sipirok-Tarutung, kami mengalami musibah. Salah satu mobil anggota rombongan selip dan jungkir balik masuk jurang sekitar pukul 14.00.
Mobil nahas Kijang Grand nopol D 1352 DZ warna hijau tua itu berada di urutan ke-10 dari mobil paling depan. Mobil yang saya tumpangi kebetulan ada urutan paling belakang, bertindak sebagai "sweeper".
Jadi kami segera tahu kejadian itu. Mobil celaka itu dikemudikan Soesmaryanto, penumpangnya Syafei dari JPA dan Rabin (sopir salah satu truk pengangkut bantuan yang ikut nebeng istirahat).
Ketika tengah melaju di jalan berliku yang merayapi punggung Pegunungan Bukit Barisan antara Sipirok-Tarutung, persisnya di tikungan antara Desa Pacorna Pitu dan Desa Simasom, Kecamatan Siatas Barita, Tapanuli Utara, Kijang itu terguling masuk jurang.
Andai saja tak tertahan pohon di lereng jurang, entah apa nasib penumpang mobil itu. Kedalaman jurang lumayan, sekitar 15 meter. Ketika celaka, mobil sepertinya dalam kecepatan lumayan tinggi.
Saya lihat kondisi mobil ringsek di bodi depan atas kanan. Roof rack copot. Saat saya tanya setelah evakuasi, Soesmaryanto ngakunya sih tidak mengantuk atau kecapekan.
Sopir yang luka ringan di lengan dan dengkulnya itu menduga perubahan posisi beban bawaan di atas kap mobil jadi penyebabnya. Di kap itu memang ditaruh barang-barang cukup berat.
Antara lain beras, bensin di tiga jeriken 50 literan dan sejumlah perbekalan lain. Karena terguncang-guncang atau karena jalan sering belok-belok, posisi barang bergeser ke kiri.
Nah, ketika menikung di jalan itu mobil miring ke kiri, dan tiba-tiba lepas kendali, terguling dua kali masuk jurang. Posisi akhir bagian kanan mobil di atas.
Mobil itu kemudian ramai-ramai dievakuasi anggota rombongan sendiri, terutama para sopir truk karena memang jalur itu tak terlalu ramai.
Evakuasi berlangsung satu jam, sampai mobil bisa diangkat kembali ke jalan. Selanjutnya kendaraan dibawa ke Mapolres Tapanuli Selatan di Kota Tarutung.
Rombongan untuk sementara istirahat di Tarutung, sembari mengecek segala sesuatu karena perjalanan tak bisa ditunda. Keputusan diambil Mang Ihin, mobil celaka ditinggal di Mapolres Tarutung, dan konvoi segera bergerak ke Sidikalang.
Dari kota ini, kami akan mencoba secepat mungkin mencapai Meulaboh. Rute yang direncanakan lewat Tapaktuan, Blangpidie dan kemudian ke Meulaboh menyisir pantai barat Aceh.(*)

Laporan dari Tapaktuan
-------Machmud Mubarok

Sunyinya Takbir di Sidikalang
MUSIBAH Pancur Pitu, di mana salah satu mobil rombongan Jabar Peduli Aceh (JPA) terjungkir ke jurang Pegunungan Bukit Barisan, memaksa kami semua menilai ulang rencana perjalanan nonstop Bandung-Meulaboh.
Mobil celaka kami tinggalkan di Tarutung, di Mapolres Tapanuli Utara. Kamis (20/1) sore tim meluncur ke Sidikalang via siborong-borong, Perbuluan dan Sigalingging.
Mang Ihin memang bersikeras perjalanan dilanjutkan, tapi di tengah jalan diputuskan kami harus istirahat. Kami sampai Sidikalang sekitar pukul 21.15.
Cuaca mendung, dan hawa terasa dingin. Maklum, wilayah penghasil kopi hebat itu terletak di ketinggian kira-kira 1.000 mdpl, seperti Lembang atau Cikole. Kami berhenti dan melapor ke Makodim 0206 Sidikalang.
Kehadiran kami disambut hangat. Terlebih setelah Dandim 0206, Letkol Inf Maryono, tahu siapa pimpinan rombongan kami. Saya melihat Letkol Inf Maryono bersikap sangat hormat kepada Mang Ihin.
Singkat cerita, malam itu kami semua istirahat di Makodim. Perjalanan malam dibatalkan karena pertimbangan keamanan sekaligus menghemat tenaga. Etape berikutnya masih berat, melintasi pegunungan yang dikenal jadi basis GAM.
Tapi malam itu saya malah nyaris tak bisa tidur. Pikiran saya jauh melayang ke Bandung dan Cimahi. Saya membayangkan malam takbiran di sana pastilah ramai. Di Sidikalang, saya merasakan kesunyian luar biasa.
Saya sama sekali tak mendengar seruan takbir, bahkan suara adzan baru saya dengar sayup-sayup saat subuh. Sedih sekali rasanya. Warga muslim di kota ini memang minoritas di tengah komunitas Kristen/Katholik.
Uniknya, kemarin pagi Sidikalang seperti kota mati. Toko-toko dan bahkan aktifitas pasar berhenti karena para pedagang dan warga istirahat penuh untuk menghormati perayaan Idul Adha. Salat Ied saya dengar digelar di dua mesjid yang ada di kota ini.
Kami sendiri tak sempat salat Id, karena mempersiapkan etape berikutnya menuju Meulaboh. Saya hanya bisa berdoa sembari bekerja kecil-kecilan membantu persiapan tim. Sempat pula beramah tamah dengan Letkol Inf Maryono.
Pagi itu kami mendapat energi baru ketika lima anggota Detasemen Angkutan Kodam III/Siliwangi bergabung. Mereka dipimpin Kapten Arwan, baru datang dari Medan atas perintah pimpinan di Bandung, untuk memperkuat pengawalan JPA ke Meulaboh.
Setelah semua tim siap dan pamit ke Dandim 0206 Sidikalang, sekitar pukul 10.00, kami meninggalkan kota itu menuju perbatasan Sumut-Aceh. Kini masing-masing truk pengangkut bantuan dikawal prajurit TNI bersenjata.
Kendaraan penyapu juga diganti tim dari Kodam. Dalam briefing sebelum berangkat, saya dengar formasi konvoi diubah demi keamanan karena jalur akan melintasi kawasan rawan pencegatan sipil bersenjata anggota GAM.
Dari Sidikalang, kami meluncur menuju kota Sukarame, Rimobunga dan Binalun. Binalun adalah kota terakhir di Sumut sebelum kami melintasi perbatasan, masuk ke wilayah Kabupaten Aceh Singkil, tepatnya ke kota Pangkalankumbi.
Situasi menjadi sangat berbeda ketika masuk wilayah Aceh. Perbatasan dijaga ketat aparat militer, dan di sepanjang jalan saya menyaksikan banyak pos-pos pemeriksaan. Dari Pangkalankumbi kami melaju ke kota Subusallam.
Berhenti sebentar di Subusallam, konvoi meneruskan perjalanan ke Tapaktuan. Rute Subusallam-Tapaktuan inilah yang disebut kawasan merah. Kerap terjadi pencegatan dan perampokan kendaraan oleh anggota GAM.
Kiri kanan jalan menuju Tapaktuan adalah perbukitan dan hutan. Di daerah yang agak datar, terdapat perkebunan kelapa sawit yang sangat luas. Keramaian baru kami temukan ketika sampai di Treumon.
Saya melihat warga masih sibuk menyembelih hewan kurban. Takbir juga masih saya dengar bersahut-sahutan dari mesjid dan meunasah. Tanpa jeda, perjalanan terus dilanjut melewati kota-kota kecil Sibadeh dan Bakungan.
Di Bakungan ini saya mulai merasakan keindahan tiada tara. Jalan menyisir pantai barat Aceh sungguh eksotik. Beraspal mulus dengan lebar antara 5-6 meter. Di tepian pantai nyiur berarak melambai.
Sungguh ini kontras dengan kehancuran Meulaboh hingga Banda Aceh akibat guncangan gempa dan amuk tsunami. Memang ada dua jembatan selepas Bakungan yang putus, tapi sudah diperbaiki Den Zipur Kodam I/Bukit Barisan.
Hingga kota Seuneubok, tak henti-hentinya saya memuji keindahan Tanah Rencong. Lepas dari Seuneubok kami menjumpai kota kecil Teureubungancut, dan kami terus melaju hingga sekitar pukul 16.00 kami tiba di Tapaktuan.
Kota pelabuhan ini merupakan ibukota Kabupaten Aceh Selatan. Suasana kota yang berada di tepian Samudera Hindia ini cukup ramai. Hingga sore itu saya masih mendengar gema takbir, dan warga sibuk membagi-bagi daging kurban.
Seluruh rombongan berhenti di salah satu SPBU untuk mengisi bahan bakar. Sekitar pukul 17.00, konvoi meninggalkan Tapaktuan. Saya berdoa semoga di etape terakhir ini berjalan tanpa rintangan.
Menurut sejumlah sopir truk tangki Pertamina yang datang dari Meulaboh, kalau lancar Meulaboh bisa dicapai 5-6 jam lagi. Saya memperkirakan rombongan akan tiba di Meulaboh jelang tengah malam.
Dari Tapaktuan, rute yang ditempuh adalah Kutabuloh, Labuhanhaji, Manggeng dan Blangpidie. Dari Blangpidie lanjut ke Susoh, Lamainong, Lamie, Peukankuala, Langka, Meureubo, dan terakhir Meulaboh.
Esok pagi, ketika laporan ini Anda baca, saya mungkin sudah mengelilingi Meulaboh, membantu persiapan distribusi bantuan yang dibawa JPA. Lima hari sudah perjalanan panjang dari Bandung kami lewati.
Saya juga akan menyusun rencana perjalanan berikutnya setelah tugas bersama JPA di Meulaboh selesai. Kalau memungkinkan via darat, saya akan ke Teunom dan Calang, dua kota yang kabarnya hancur lebur.(*)

HLLLLL 1

Relawan Jabar Dihantui Aksi GAM
* Mang Ihin dan Tim JPA Tiba di Meulaboh

Tapaktuan, Metro
Bantuan logistik Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan Letjen (Purn) Solihin GP atau Mang Ihin, Jumat (21/1) jelang tengah malam tiba di Meulaboh, Kab Aceh Barat. Tim akan segera bekerja membantu warga Meulaboh yang selamat dari gempa dan tsunami.
Lima hari penuh, sejak Senin (17/1), rombongan menghabiskan waktu di jalan. Laporan Machmud Mubarok dari Metro yang menyertai JPA, paling tidak dua peristiwa penting terjadi di sepanjang perjalanan misi kemanusiaan maha berat ini.
Pertama, musibah terjungkalnya mobil Kijang JPA di lintasan Sipirok-Tarutung. Kedua, teror dari kelompok sipil bersenjata ketika konvoi JPA melintasi Subusallam di wilayah Kabupaten Aceh Singkil.
"GAM turun di wilayah itu. Formasi kita ubah, satu mobil kita tempatkan satu anggota bersenjata untuk pengamanan," kata Kapten Arwan dari Detasemen Angkutan Kodam III/Siliwangi saat briefing sebelum meninggalkan Sidikalang, kemarin pagi.
Kapten Arwan dan empat anak buahnya datang dari Medan dan bergabung dengan JPA di Sidikalang. Total jenderal petugas pengawalan 13 truk dan 4 mobil JPA adalah 17 personel Kodam III/Siliwangi, termasuk 12 orang yang ikut sejak dari Bandung.
Walhasil, ketegangan merayapi perjalanan tim selepas wilayah Sumatera Utara. "Suasana sangat berbeda saat kita masuk Aceh. Pos perbatasan mencolok, dan pos taktis ada di sepanjang rute," lapor wartawan koran ini setibanya di Tapaktuan, Aceh Selatan.
Pos-pos keamanan dan pemeriksaan itu dijaga anggota Brimob Polri maupun TNI. "Antara Penanggalan ke Treumon di Aceh Singkil saya lihat dijaga anggota Brimob Polda Metro Jaya," lanjut laporan wartawan koran ini.
"Saya juga lihat ada pos Yonif 527 Kostrad dari Lumajang, Jawa Timur. Nah, di Bakongan, saya lihat wilayah itu dijaga prajurit Yonif 330/Cicalengka. Kita cuma say hello aja karena konvoi terus melaju," kata Machmud.
Kekhawatiran pencegatan rombongan oleh sipil bersenjata GAM memang tak terbukti sampai tim JPA tiba di Tapaktuan, ibukota Kabupaten Aceh Selatan. Tapi info awal itu cukup membuat urat syaraf seluruh anggota tim tegang sepanjang jalan.
Kontak Diplomasi
Di Banda Aceh, juru bicara kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, pemerintah RI sudah melakukan kontak﷓kontak pendekatan di lapangan dengan tokoh-tokoh Gerakan Separatis Aceh (GSA).
Kontak awal itu merupakan upaya taktis menyusul seruan﷓seruan rujuk dan pemberian amnesti bagi mereka yang menyerahkan diri secara sukarela pasca bencana.
"Sudah ada kontak﷓kontak di lapangan dengan mereka (GSA)," kata Dino di sela-sela mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono salat Idul Adha 1425 Hijriyah di Mesjid Baiturrahman, Banda Aceh, kemarin pagi.
Dino mengatakan, Presiden Yudhoyono sejak hari kedua setelah bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 telah langsung menyampaikan pesan perdamaian dan mengajak kaum separatis itu untuk meletakkan senjata.
Tokoh GAM di Swedia lewat media menyatakan "melakukan gencatan senjata" menyusul gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh. Namun pihak TNI mendapati kenyataan lain di lapangan.
"Dalam dua minggu ini, kita terpaksa membunuh sedikitnya 120 anggota GSA, dan menyita senjata﷓senjatanya," kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu di Banda Aceh, Kamis (20/1).
Ryamizard menekankan, TNI terpaksa menembak mati anggota﷓anggota GSA karena bukan hanya mengganggu kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan, tetapi juga merampok barang﷓barang yang diperlukan para pengungsi di Aceh.
"Presiden, Panglima TNI, dan saya sudah mengajak anggota GSA untuk turun gunung, menyerahkan senjata, dan bersama﷓sama membangun Aceh, dan bukannya melakukan perampokan bahan makanan," lanut Ryacudu.
Mengenai rencana rekonsiliasi dengan GSA, Ryamizard mengatakan itu urusan politik, bukan urusannya. Jika, GSA menyerah dan meletakkan senjata, maka permasalahan Aceh sudah selesai.
"Selama GSA masih pegang senjata, bahkan malah mencari senjata baru, maka masalahnya tidak akan selesai﷓selesai. Kuncinya adalah GSA turun gunung, meletakkan senjata, dan bersama﷓sama membangun Aceh," katanya.
"Dalam ajaran agama Islam ada Islah sampai tiga kali. Kalau tidak mau islah, ya kita perangi. Tidak ada negara di dalam negara, itu namanya bughot (melawan negara)," tegas Ryacudu.(ant)

Laporan dari Meulaboh
------Machmud Mubarok

Akhirnya Sampai Juga di Meulaboh
TUNTAS sudah etape panjang Bandung-Meulaboh yang digeber sejak Senin (17/1). Jumat (21/1) pukul 23.26, konvoi Jabar Peduli Aceh (JPA) yang terdiri 13 truk dan 3 mobil Toyota Kijang memasuki pusat kota Meulaboh.
Saya menarik napas lega dan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT. Perjalanan maha berat ini selamat sampai tujuan. Hari yang sudah larut menjadikan tak banyak yang bisa saya lukiskan dari perjalanan Tapaktuan-Meulaboh.
Saya dan rombongan meninggalkan Tapaktuan di Aceh Selatan kira-kira pukul 17.00. Dihitung-hitung, perjalanan Tapaktuan-Meulaboh yang berjarak sekitar 200 kilometer memakan waktu hampir 6,5 jam.
Sebenarnya ini agak molor, karena kalau mulus, biasanya tak sampai 6 jam. Dari Tapaktuan, perjalanan masih menyisir tepian Samudera Hindia di pesisir barat Aceh. Kota pertama yang kami lewati adalah Kutabuloh.
Meski sudah jelang malam, suasana di sepanjang perjalanan masih cukup benderang. Cuaca cerah, dan saya masih bisa menikmati keindahan alam Tanah Rencong di senja hari itu. Kota berikutnya yang kami lewati adalah Labuhanhaji.
Konvoi JPA terus melaju di jalan yang lumayan mulus menuju Manggeng. Kota lumayan besar berikutnya yang kami lewati adalah Blangpidie. Ini merupakan kota pesisir yang cukup ramai. Mulai kota ini saya menyaksikan sisa-sisa bencana.
Pagar rumah yang roboh, dan puing-puing bangunan yang runtuh digetar gempa. Sekilas saja, karena hari makin malam sehingga saya tak lagi bisa mendeskripsikan apa yang terlihat di kiri kanan jalan.
Dari Blangpidie, rombongan nonstop menuju kota berikutnya, Susoh, Lamainong, Babahrot, Lamie dan Pekankuala. Di sepanjang kota-kota kecil ini bekas-bekas kerusakan akibat bencana makin sering terlihat.
Saya memang hanya sekilas melihat ketika melewati permukiman yang diterangi cahaya remang-remang lampu listrik. Perjalanan panjang di etape terakhir yang monoton, suasana di luar gelap lagi, membuat mata saya kerap terpejam.
Akhirnya konvoi memasuki wilayah Kabupaten Aceh Barat. Kota Langka kami lewati, dan rombongan memasuki wilayah Kecamatan Mereubo. Ini adalah kota kecil di pinggiran Meulaboh, sekaligus titik pertemuan dua jalur masuk Meulaboh.
Jalur pertama adalah rute Meulaboh-Takengon-Bireuen via Beutong Atuh, dan kedua yang baru saja saya lewati dari Tapaktuan-Blangpidie. Di sini bekas-bekas kerusakan makin kelihatan.
Titik-titik pengungsian penduduk juga mulai terlihat. Kendaraan mulai berjalan lambat karena di sejumlah titik, jalan amblas tak kuat menahan guncangan gempa. Makin masuk ke kota, sisa-sisa kerusakan makin tampak.
Di wilayah Kelurahan Suak Indah Putri, di sisi kiri kendaraan, samar-samar saya melihat dataran luas hingga bisa memandang laut lepas. Di tengah dataran itu menjulang sebuah bangunan mesjid.
Di sisi kanan pun sama, dataran menghampar luas. Onggokan sampah, bahkan rongsokan kendaraan masih saya lihat di beberapa tempat. Beberapa menit kemudian, konvoi berhenti di sebuah lokasi.
Begitu turun, saya dikasih tahu komplek yang kami tuju adalah markas Kompi Senapan C Yonif 112/Dharma Jaya. Itulah salah satu instalasi militer yang tersisa di Meulaboh. Karena sudah larut malam, cuma beberapa prajurit jaga yang menyambut kami.
Setelah memberi laporan, dan atas izin komandan satuan tersebut, kami semua bermalam dan beristirahat di markas tentara yang dijadikan pusat kendali penanganan bencana di Meulaboh dan sekitarnya.
Danrem 012/Teuku Umar, Kolonel Inf Geerhan Lantara yang lolos dari lipatan tsunami, kabarnya juga berkantor sementara di tempat ini. Malam itu saya istirahat penuh, karena esok paginya saya sudah menyusun rencana.(*)

PAKE FOTO MAC

Laporan
Machmud Mubarok
dari Meulaboh

Di Blangpidie, Bencana Seolah Tak Pernah Terjadi
SETELAH menginap semalam di Kota Kecamatan Mereubo, Aceh Barat, kami kembali menyusuri berbagai wilayah di Kota Meulaboh. Sampah dan reruntuhan bangunan, masih terlihat menumpuk di sepanjang pinggiran jalan.
Ini hari kedua kami di Meulaboh. Pegal-pegal akibat perjalanan jauh dari Bandung, pekan lalu, masih terasa di sekujur tubuh.
Dari Mereubo, arak-arakan kendaraan rombongan Jawa Barat Peduli Aceh (JPA) yang saya ikuti kembali menuju Blangpidie agar tiba di Desa Gampa, Kecamatan Johan Pahlawan. Di desa ini pimpinan rombongan Solihin GP berencana memberikan bantuan Rp 4,5 juta, untuk perbaikan Mesjid Al Isroq yang hancur dilanda tsunami.
Sebelum memasuki Blangpidie, rombongan berhenti, dan menyapa beberapa relawan yang masih terlihat sibuk membolak-balikan puing sambil memunguti bagian-bagian tubuh manusia yang nyaris berbentuk kerangka. Mereka memasukkannya ke dalam kantung mayat, dan menggeletakkannya begitu saja di pinggir jalan.
"Biar PMI yang nanti mengangkutnya," teriak salah seorang relawan saat kami sapa. Bersama beberapa temannya sesama burma, begitu para relawan ini biasa disapa, ia pun kembali berjalan dan menyingkirkan puing-puing. Istilah burma sendiri, belakangan saya ketahui, ternyata merupakan kependekan dari pemburu mayat.
Melihat kondisinya di lapangan, tak ada yang bisa memastikan berapa ribu mayat lagi yang sebenarnya masih terkubur. Meski jumlah yang ditemukan terus menurun setiap harinya, tapi tetap saja banyak karena masih di atas angka lima puluh.
Saat ini, kata salah seorang burma, rata-rata ada 75 hingga 100 mayat yang berhasil dievakuasi setiap harinya. Sementara hingga satu pekan lalu, tak kurang dari 200-an mayat yang setiap hari berhasil diambil.
Tak lama di tempat itu, kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Blangpidie. Di sini jalanan cukup ramai, banyak sepeda motor yang berseliweran.
Entah karena beberapa saat sebelumnya baru saja menyaksikan kelompok pengungsi yang menderita di tempat penampungan, ada perasaan getir menyaksikan kesibukan warga di pinggiran wilayah Blang Pidie ini.
Mereka begitu sibuk dengan kegiatannya masing-masing, seperti tak peduli meski tak jauh dari wilayah tempat mereka berada banyak sekali orang yang terlunta-lunta karena tak lagi punya tempat tinggal. Yang menghirup kopi nikmat dengan aktivitasnya, yang tertimpa bencana terantuk-antuk dengan kepedihannya. Entahlah. Saya sendiri tak mau terlalu jauh memikirkan hal itu.
Tak lama berselang, kami pun tiba di Johan Pahlawan, tanpa terasa. Kesibukan di tempat ini, membuat kami sedikit lupa pada perasaan yang campur aduk yang kami peroleh sepanjang perjalanan. Rencananya, Selasa nanti, kami akan menuju Calang yang selama ini terisolir. Tapi, sehari sebelum ke Calang, delapan ton benih yang kami bawa dari Bandung, diagendakan akan lebih dahulu dibagikan secara langsung pada masyarakat. Begitu pula dengan ribuan pasang sepatu, sarung, air mineral, dan obat-obatan. (*)


----banner

Laporan dari Meulaboh
------Machmud Mubarok

Tak Ada Lagi Kupiah Meukutop Teuku Umar
SENIN (24/1). Pagi itu hari dibuka dengan getaran gempa yang saya rasakan cukup kuat. Kekuatan gempa itu bahkan membuat orang sulit berdiri tegak sesaat. Kendaraan yang diparkir pun terlihat bergoyang-goyang.
Saya tidak tahu di mana episentrum gempa dan sejauh mana dampaknya. Saya dengar gempa susulan memang sudah terjadi belasan kali sejak malapetaka 26 Desember 2004. Kadang kuat, kadang getarannya lemah.
Kepanikan saya lihat tak tampak di sekitar tempat saya tinggal sementara waktu, yaitu di sebuah lapang dekat markas Kompi Senapan C Yonif 112/Dharma Yudha. Sesaat saja orang kaget, tapi sesudah itu situasi kembali normal.
Saya bertanya dalam hati, gempa ini saya rasakan begitu kuat, tapi mengapa orang-orang Meulaboh ini kelihatan cuek. Apakah mereka sudah terbiasa, kebal rasa, atau memang sudah putus urat syaraf takutnya?
Lalu gempa macam apa yang terjadi 26 Desember 2004? Pasti jauh lebih dahsyat, pasti jauh lebih hebat daripada gempa yang pagi itu saya rasakan. Itulah gempa pertama yang saya alami sejak tiba di Meulaboh, dua hari lalu.
Di luar aktifitas mengikuti aksi Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan Mang Ihin, saya sempat ke pantai Batu Puteh (Batu Putih) di pesisir Meulaboh. Saya ingin menuntaskan rasa penasaran saya pada nasib "landmark" Meulaboh.
Saya sebetulnya pesimistis bisa menemukan apa yang saya cari. Sebab selama dua hari terakhir ini, saya hanya menemukan kehancuran demi kehancuran di kota tua tempat lahirnya pahlawan nasional Teuku Umar ini.
Dan, ternyata betul juga. Saya tak mampu menggapai lokasi yang saya cari. Puing bangunan menggunung, lumpur dan pasir mengendap setebal pinggang. Bibir pantai Batu Puteh yang saya cari tak bisa ditembus dari kota.
Padahal di situlah letak tugu "Kupiah Meukutop" Teuku Umar, "landmark" Meulaboh. Tapi dari beberapa warga yang ada di sekitar tempat itu, saya memperoleh cerita, tugu itu telah lenyap.
Tugu itu dulunya berdiri gagah di tepian pantai Batu Puteh. Menjulang setinggi kira-kira 8 meter dengan diameter 2,5 meter, monumen itu berbentuk kopiah khas yang pernah dikenakan Teuku Umar.
Berbahan beton yang beratnya berton-ton, tugu inilah yang jadi "landmark" Meulaboh selama bertahun-tahun. Saya tak bisa membayangkan, bongkahan tugu berton-ton itu entah terlempar ke mana.
Saya sekali lagi bertanya kepada orang-orang yang tengah mencari rongsokan di bekas permukiman di situ, tak satupun yang tahu. Mereka cuma bilang, mungkin terkubur pasir, lumpur, atau mungkin berkeping ketika digulung air laut.
Daerah yang saya kunjungi ini memang terlihat sangat parah kerusakannya. Konon, gelombang air laut yang datang menggulung Meulaboh tingginya melewati pucuk-pucuk nyiur yang tadinya berarak di tepi pantai.
Dari korban selamat, yang ceritanya saya dengar dari mulut ke mulut, air yang menenggelamkan Meulaboh tak datang dari arah yang sama. Di beberapa tempat terjadi persilangan gelombang, sambar menyambar.
Tapi yang paling merusak adalah gelombang kobra dari arah pantai Batu Puteh, Colok﷓Padang Seurahet, Ujong Kareung, hingga ke Suak Pandan di Kecamatan Johan Pahlawan yang berbatasan dengan Kecamatan Suak Timah. Pantai-pantai itu posisinya sejajar meski di bentuknya berbeda-beda. Permukiman pertama yang kena sapu adalah desa nelayan Padang Seurahet.
Desa itu kini rata tanah. Yang terlihat cuma pondasi rumah dan lantai-lantai rumah yang keramiknya sudah tercerabut. Begitu pula pepohonan nyaris tak ada yang sisa, semuanya tandas.
Begitu juga dengan kawasan Ujong Kareung yang dipenuhi oleh pusat perkantoran pemerintah, markas Korem 012/Teuku Umar, Mapolres Aceh Barat, asrama TNI/Polri, pendopo bupati serta kediaman pejabat, lenyap tersapu.
Air dari pantai Padang Seurahet, menghantam wilayah Lung Nek Aye, pusat pertokoan kota, hingga terminal angkutan antar-kota Meulaboh, terus menyapu wilayah Pesantren Babussalam, hingga ke Jalan Manek Ro.
Di sini, air bah dari Padang Seurahet bertemu dengan air bah yang berasal dari pantai Batu Puteh. Akibatnya, di wilayah Ujong Baroh hingga terminal kota, ketinggian air mencapai atap rumah, menyapu apa saja yang dilaluinya.
Air baru berhenti ketika hendak mencapai Jalan Gajah Mada, dan RSU Cut Nyak Dhien, Meulaboh. Dalam batas kawasan itu hingga ke Kecamatan Kaway XVI, wilayah Mulaboh aman﷓aman saja. Posisinya memang agak lebih tinggi.
Menurut kesaksian warga yang selamat, mayat﷓mayat dan harta benda penduduk dari wilayah sepanjang pantai, terseret air hingga ke batas Jalan Manekro. Jarak dari pantai kira-kira lima kilometer.
Menceritakan Meulaboh memang seperti tak ada habisnya. Saya selalu menemukan cerita-cerita dramatis dari warga kota tentang malapetaka terdahsyat abad ini. Hampir sebulan bencana berlalu, tapi waktu seolah berjalan pelan di kota ini. Saya masih kesulitan berkomunikasi secara baik dengan dunia luar. PT Telkom baru mampu mengoperasikan saluran telepon satelit dalam amat jumlah terbatas.
Penerangan juga masih terbatas karena jaringan listrik hancur total di separuh kota. Saya tak bisa membayangkan situasi Teunom dan Calang, kota di sebelah Meulaboh, yang kabarnya tandas tak tersisa.(*)

Gempa Kembali Getarkan Aceh
* Tommy Winata Akan Bangun Meulaboh
* Sekolah Mulai Data Siswa Selamat

Meulaboh, Metro
Gempa kuat yang mampu menggetarkan kendaraan yang tengah parkir, Senin (24/1) pagi mengguncang Meulaboh dan sekitarnya. Guncangan selama 20 detik itu juga terasa di sepanjang pesisir barat Aceh pada pukul 07.30.
Sekalipun cukup kuat, situasi Meulaboh normal. Warga yang tersisa di kota itu cuma keluar rumah sebentar, lalu melanjutkan aktifitasnya. Di tempat-tempat pengungsian juga tak tampak kepanikan.
Demikian laporan Machmud Mubarok, wartawan koran ini yang tengah berada di Meulaboh. Sementara Syahnan, Kepala Stasiun Meteorologi dan Geofisika NAD di Mata Ie, Banda Aceh, menjelaskan gempa susulan ini berkekuatan 5,6 skala Richter.
Pusat gempa berada di titik 3,95 Lintang Utara (LU)﷓95,57 Bujur Timur (BT) dengan pusat gempa 55 km sebelah barat daya Meulaboh, ibukota Aceh Barat. Atau sekitar 355 km arah barat laut Banda Aceh.
Pada pukul 11.16 juga terjadi gempa susulan, namun kekuatannya menurun. Episentrum gempa yang berlangsung sekitar 506 detik ini berada di 7,67 Lintang Utara (LU)﷓93,10 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 20 kilometer.
"Getarannya cukup kuat. Saya yang tengah duduk di sebuah batu merasakan betul getarannya. Kendaraan yang di parkiran juga bergoyang-goyang," kata Mubarok yang mengikuti aksi kemanusiaan Jabar Peduli Aceh (JPA) ini.
Denyut kehidupan di Meulaboh sejak kemarin memang terlihat makin marak. Sejumlah sekolah di kota yang porakporanda itu mulai didatangi siswa dan tenaga pengajar. Kendati demikian, belum ada aktifitas proses belajar mengajar.
Di SMP Negeri 3 Meulaboh, banyak para siswa dan guru yang datang ke sekolah. Kedatangan mereka ke sekolah yang luput dari amukan tsunami ini dimaksudkan untuk pendataan siswa dan tenaga pengajar setelah gelombang kobra menghantam bumi Teuku Umar itu.
Selain digunakan siswa SMP 3, sekolah itu juga ditempati siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Meulaboh. Kedua sekolah menengah pertama ini, rusak dan hancur.
Para siswa yang masuk sekolah banyak yang tidak berseragam lengkap, karena para siswa banyak yang menjadi korban. Ada juga yang terlihat hanya memakai sandal jepit.
Menurut Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kasmudin, sebelum tsunami siswa di sekolah yang dipimpinnya berjumlah 665 orang, 36 tenaga guru dan 16 ruang sekolah. Belum diketahui jumlah siswa yang menjadi korban tsunami.
Pemandangan serupa juga terlihat di SMU Negeri 1 Meulaboh yang berada di Jalan Seneubok. Di sekolah ini, belum ada proses belajar mengajar, kendati banyak siswa yang mulai masuk sekolah.
Sebelum tsunami, jumlah siswa di SMU 1 Meulaboh sebanyak 998 orang dengan 54 tenaga pengajar, dan 21 ruang belajar. 28 siswa dinyatakan menjadi korban, baik meninggal maupun hilang.
Sementara dua guru juga dilaporkan hilang. Para siswa banyak yang tidak memakai seragam sekolah. Mereka sangat membutuhkan seragam dan alat tulis.
Para siswa SMU 1 sempat panik setelah gempa susulan mengguncang Meulaboh pagi itu. Mereka terlihat masih sangat trauma setelah gempa tektonik dan badai tsunami meluluhlantakkan kota mereka.
Sejumlah siswa yang ditemui mengaku sangat khawatir dengan gempa susulan. Sementara Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat, Adnan Majid mengatakan, untuk kebutuhan proses belajar mengajar di Meulaboh dan Aceh Barat, dibutuhkan 300 tenda darurat.
Hingga saat ini, akunya, baru 64 tenda yang tersedia. Dia juga mengatakan, sebelum tsunami jumlah murid SD hingga SMU di Aceh Barat mencapai 37.000 orang dengan 2.500 tenaga pengajar.
Namun hinga kemarin, baru 10.000 siswa yang dinyatakan selamat di seluruh Aceh Barat. Sementara siswa yang selamat di Meulaboh berkisar 2.000﷓an siswa.
Kadis Pendidikan menambahkan, jumlah gedung SD yang rusak dan hancur di Aceh Barat mencapai 42 unit dari 170 sekolah, SMP dan SMU 23 unit dari 47 unit. Sedangkan dari 40 unit bangunan sekolah Taman Kanak﷓kanak (TK), 20﷓an dinyatakan rusak.
Aktifitas pendidikan di sekolah yang luput dari amukan tsunami sedikit terhambat karena banyak sekolah yang dijadikan kamp pengungsian, posko relawan dan posko bagi prajurit TNI dan Polri.
Aktifitas di sejumlah dinas di lingkungan Pemkab Aceh Barat mulai berfungsi dan berjalan. Kemarin pagi, sejumlah kepala dinas dan pegawai negeri di Meulaboh terlihat mengikuti apel pagi di kantor Bupati Aceh Barat.
Akhir pekan lalu, Pemkab Aceh Barat yang diwakili Bupati Syahbuddin BP, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) rehabilitasi dan rekonstruksi kota dengan kelompok bisnis Artha Graha milik Tommy Winata.
Menurut Bupati Syahbuddin BP, pihak Artha Graha sudah menyerahkan blue print (cetak biru) kota Meulaboh, sebelum dan sesudah dihantam badai tsunami pada 26 Desember 2004 silam.
Saat ini, kata Bupati, rencananya kota Meulaboh akan digeser dan tidak lagi berada di pinggir pantai. Rumah﷓rumah yang dulunya berada di pinggir pantai akan direlokasi.
Kawasan pantai Meulaboh akan ditanami hutan bakau dan dijadikan kawasan wisata. Namun demikian, MoU tersebut belum merinci secara konkret berapa dana yang akan dikucurkan pihak Artha Graha.(*)

MAAF, ini yang dipake. Naskah XNA1 dan XNA2 JANGAN DIPAKE

Tentara AS Drop Logistik ke GAM
Meulaboh, Metro
Informasi menarik datang dari Calang, ibukota Kabupaten Aceh Jaya yang hancur lebur diamuk gempa dan tsunami. Tentara AS ternyata pernah mendrop bantuan logistik ke kelompok sipil bersenjata yang berkeliaran di kawasan itu.
Dokumentasi foto kejadian itu dimiliki aparat Kodim Aceh Jaya. Cerita ini diungkapkan Ujang R (55), sesepuh offroader Bandung, yang dua pekan penuh mengikuti aksi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Pasukan AS sendiri, Senin (24/1), mendarat di Calang, mengantar logistik dan pulang ke Meulaboh mengangkut mobil Indonesia Offroad Federation (IOF). Operasi itu kabarnya merupakan pendaratan terakhir pasukan AS di Calang.
Demikian laporan Machmud Mubarok, wartawan koran ini dari Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Selasa (25/1). "Saya sempat dikasih lihat foto-foto itu. Tapi nggak tahu kapan kejadian itu diabadikan dan di mana," kata Ujang setiba di Meulaboh dari Calang, Senin (24/1).
"Tapi susah juga memastikan apakah itu logistik pangan atau lain, karena aparat tak memperoleh kejelasan. Yang pasti yang menerima orang-orang sipil bersenjata, dan siapa lagi mereka kalau bukan GAM," lanjut penggemar olahraga petualangan ini.
Kemarin, tim Indonesia Offroad Federation (IOF) dari Bandung pulang kampung lewat jalan darat dari Meulaboh. "Misi kami telah selesai," lanjut Ujang yang mengajak serta anaknya, Yudi Kurniadi (23), ke Aceh Jaya.
Situasi di wilayah Calang, kata Ujang, sangat dilematis. Dampak bencana di kota itu luar biasa parah, bahkan boleh seluruh kota yang ada di pesisir Samudera Hindia ini musnah. Karena itu butuh bantuan segera.
Meski demikian berkat bantuan darurat saat ini tenda-tenda telah dibangun meski masih sedikit dihuni, demikian juga penerangan melalui genset sudah jalan. Hanya saja mayat-mayat masih banyak bergelimpangan dan banyak tertimpa beton-beton bangunan. Hal ini karena Calang sebagai kota baru banyak terdiri dari bangunan beton.
Tapi para relawan kemanusiaan yang datang ke tempat itu mendapat tekanan dan pembatasan dari dua kubu sekaligus, TNI dan kelompok sipil bersenjata. "Ini yang menyulitkan gerak kami," imbuh Ujang.
Selain aparat organik, wilayah itu dijaga pasukan non organik Marinir TNI AL dan Kopassus. Mereka inilah yang secara ketat membatasi ruang gerak relawan, bahkan kerap mengawasi setiap tahap aksi kemanusiaan.
"Pagi suruh lapor, sore pulang juga. Kita mau pergi aja ditanya-tanya mau apa, ke mana, dan apa aja yang dibawa. Kontak langsung dengan warga setempat yang selamat dari malapetaka sepertinya ingin mereka batasi," papar Ujang.
Kabupaten Aceh Jaya baru berdiri dua tahun lalu sebagai pemekaran wilayah Kabupaten Aceh Barat. Kota di pesisir barat Aceh ini masuk daftar kawasan hitam, basis kelompok sipil bersenjata Aceh Merdeka.
Konon, sampai sekarang susah membedakan mana anggota GAM, dan yang bukan karena mereka lebur ke tengah masyarakat. Info kejadian pasukan AS mendrop logistik ke kelompok sipil bersenjata sejauh ini baru jadi bahan obrolan kelompok terbatas.
Faktor putus totalnya komunikasi ke wilayah itu, dan kesibukan aksi darurat menjadikan kabar ini seperti dinomorduakan. Namun di antara para petinggi TNI diduga sudah menerima laporan ini, termasuk Panglima TNI.
"Soalnya Panglima (Jenderal TNI E Sutarto) sudah ke Calang pekan lalu, dan saya kira ini sudah dilaporkan. Panglima juga sempat menengok pos kita di sana," lanjut Ujang yang masih terlihat segar ini.
Kapuspen TNI, Mayjen TNI Syafrie Syamsudin sampai berita ini diturunkan belum bisa dimintai konfirmasi. Begitu pula Danrem 012/Teuku Umar, Kolonel Inf Geerhan Lantara yang berkedudukan di Meulaboh.
Sementara di Banda Aceh, kemarin, Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto menegaskan operasi pemulihan keamanan tetap digelar. Frekuensi kontak senjata antara TNI dengan GAM kata Sutarto juga cenderung meningkat.
Dalam tiga minggu terakhir telah terjadi 57 kali kontak senjata antara TNI dan GAM, dan telah menewaskan 210 orang. Soal perundingan pemerintah dengan GAM, Sutarto menegaskan TNI bisa menerima penyelsaian damai lewat dialog.
"Karena hal itu keputusan politik, TNI tidak mencampuri wilayah politik itu, namun memberikan masukan﷓ masukan kepada pemerintah dalam mengambil keputusan," katanya sesaat sebelum berangkat ke Jakarta di Lanud Sultan Iskanar Muda.
Jumlah total personel TNI di wilayah Aceh saat ini sekitar 60 ribu. Sebagian di antaranya merupakan tenaga kemanusiaan yang ditugaskan membuka jalur darat di pesisir barat Aceh, khususnya antara Banda Aceh﷓Lamno dan Melabouh﷓Calang.(*)
---Banner

Laporan dari Meulaboh
Machmud Mubarok

Legiun Asing Prancis Turun ke Darat
SELASA (25/1). Ini hari keempat saya berada di Meulaboh. Tak ada gempa seperti sehari sebelumnya, juga tak ada kejadian menonjol. Suasana kota makin hidup ketimbang hari-hari sebelumnya.
Pagi itu kebisingan paling terasa di sekitar lapangan Kompi Senapan C Yonif 122/Dharma Jaya. Saya menyaksikan beragam helikopter naik turun membawa perbekalan atau mengangkut relawan dan tamu-tamu asing.
Selain helikopter NBO yang sudah pernah saya lihat sebelumnya, ada heli angkut raksasa Chinook milik Singapura, kemudian Sea Knight dan juga SH-60 Sea Hawk milik US Navy yang berpangkalan di kapal induk USS Bonhomme Richard.
Kapal besar itu kabarnya lepas jangkar di lepas pantai Meulaboh. Sementara di sepanjang pantai Meulaboh, kawasan itu dikapling pasukan Marinir AS dan tentara Prancis yang berpangkalan di kapal induk Jeanne d'Arc.
Mereka membuat tenda-tenda khusus tempat mereka menginap selama ditugaskan di Meulaboh. Sebuah hovercraft raksasa berpendorong baling-baling ganda, atau istilah resminya Landing Craft Air Cushion (LCAC) milik Unit Ekspedisi Marinir 15 AS dari USS Bonhomme Richard, bertengger menyeramkan.
Kendaraan mirip monster itulah yang Senin (24/1) lalu membawa kendaraan dan awak Indonesian Offroad Federation (IOF) Bandung dari Calang. Kendaraan itu juga yang beberapa kali menurunkan logistik, buldozer dan forklift ke daratan Meulaboh.
Selain mengamati aktivitas tentara asing di tepian pantai Meulaboh, siang kemarin saya mengikuti kegiatan Jabar Peduli Aceh (JPA) ke "Alpen". Mulanya saya kaget mendengar kata "Alpen". Saya menduga-duga apa tempat ini ada kaitannya dengan pegunungan Alpen.
Rupanya ini cuma singkatan nama Desa Alue Penyaring di Kecamatan Kaway XVI. Di desa ini terdapat dua titik pengungsian warga Meulaboh yang lolos dari maut. Desa ini beruntung tak terjamah air bah, meski gempa merusak sebagian bangunan.
Distribusi bantuan JPA pimpinan Mang Ihin ada dua titik. pertama di lapangan Desa Alpen, yang kedua ke sebuah komplek Perumnas yang belum ditempati. Ada sekitar 800 KK ditempatkan di lokasi itu.
Bantuan yang dibagi-bagi kemarin berupa 6.000 pasang sepatu baru aneka ukuran, bahan pangan, dan pakaian pantas pakai. "Kami ingin barang-barang ini diterima langsung ke warga yang butuh, jadi amanat benar-benar kami laksanakan," kata Mang Ihin.
Sehari sebelumnya, JPA juga membagi barang serupa di lapangan Desa Kedai Arun, juga di Kecamatan Kaway XVI. Antusiasme warga terlihat benar. Tapi mereka cukup mudah diatur, dan tak rewel ketika diminta berbaris antre.
Nah, sewaktu di Alpen, kami bertemu dengan sekitar 10 bule dari Prancis dan staf Unicef. Mereka dipimpin Kolonel dr A Taresdo. Di tempat itu mereka memberikan vaksinasi campak dan tetanus kepada anak-anak dan orang tua.
Kerja mereka tampak gesit, tak canggung, dan sepertinya tak ada beban mental berada di tengah-tengah wilayah yang porak poranda. Kami sempat bercakap-cakap, dan mereka sepertinya juga tak menjaga jarak.
Ada yang menarik di mata saya menyaksikan kehadiran tentara Prancis ini. Sebab di tengah-tengah mereka saya lihat ada seorang pria tegap berambut cepak, mengenakan seragam militer, tapi dari warna kulit dan wajahnya seperti bukan orang Prancis.
Belakangan saya tahu, pria itu anggota Legiun Asing Prancis (French Foreign Legion) asal Macao. Saya langsung teringat kisah kehebatan satu-satunya pasukan bayaran paling terorganisir di dunia ini.
Legiun Asing ini statusnya berada di bawah kontrol pemerintah Prancis, tapi tak semua prajuritnya berkewarganegaraan Prancis. Sedikit mengulas, Legiun Asing dibentuk oleh Louis Philippe, raja Prancis pada 10 Maret 1831.
Pasukan ini didirikan untuk memperkuat pendudukan Prancis di Aljazair. Sukses di Afrika, kehebatan Legiun Asing Prancis ini dilanjut ke pertempuran di Crimea, peperangan di Italia dan Meksiko.
Pasukan ini menorehkan kisah paling legendaris ketika bertempur di Meksiko. Waktu itu sebuah unit patroli kecil beranggotakan 62 serdadu dan tiga staf yang dipimpin Kapten Danjou digempur 3 batalyon infantri dan kavaleri Meksiko.
Pertempuran tak seimbang di Hacienda Camerone ini tak membuat semangat Legiun Asing rontok. Mereka terus bertempur hingga prajurit terakhir. Kapten Danjou tewas dalam peperangan yang akhirnya menyisakan tiga prajurit.
Ketiga serdadu yang luka parah itu menyerah, tapi mengajukan permintaan agar diperbolehkan membawa pulang bendera Prancis dan mayat komandan dan teman-temannya. Seorang komandan tentara Meksiko memberi komentar, "mereka bukan manusia, mereka setan."
Sekalipun jumlah mereka kini tak sebanyak ketika Prancis aktif dalam berbagai front perang dan penguasaan wilayah, eksistensi Legiun Asing masih dipertahankan.
Salah satu pangkalan mereka, yaitu Demi﷓Brigade of Foreign Legion Ke-13, ada di Djibouti, Afrika Utara. Nah, kapal induk Jeanne d'Arc yang kini buang sauh di lepas pantai Meulaboh, ketika diperintahkan ke Aceh, tengah berada di Djibouti.
Jadi personel militer yang dibawa salah satunya dari unsur Legiun Asing. Seumur-umur, saya tak pernah membayangkan akan bertemu serdadu dari pasukan bayaran paling melegenda, yang kisahnya cuma saya dapat dari bacaan-bacaan itu.
Pulang dari Kaway XVI, ketika melintasi wilayah Meureubo, sekali lagi saya lihat sepak terjang serdadu asing. Belasan prajurit Marinir AS tampak membersihkan puing, batang dan ranting pohon tumbang yang menutupi sebagian badan jalan.
Bercelana loreng khas US Marine, berkaus kelabu, para prajurit muda yang sebagian besar tangannya ditato itu bekerja serius. Mereka juga tampak terbiasa dengan pekerjaan-pekerjaan kasar seperti itu.
Selintasan saja saya menyaksikan mereka. Saya terus melaju ke pusat kota Meulaboh yang remuk, hari mulai bergeser senja, dan saya berharap akan menemukan cerita-cerita lebih seru lagi esok hari.(*)

Tentara AS Mulai Menghilang
* Tim JPA Akhiri Misi di Meulaboh
* Susi Pudjiastuti Tadi Malam Muncul
Meulaboh, Metro
Pasukan AS yang selama ini diperbantukan ke Meulaboh dan sekitarnya, sejak Rabu (26/1), atau genap sebulan setelah malapetaka gempa tsunami 26 Desember 2004, mulai tak terlihat batang hidungnya.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir Ke-15 ini ditarik mundur ke kapal perang yang membawa mereka, USS Bonhomme Richard. Frekuensi penerbangan helikopter asing pun menurun drastis.
Kabar lainnya, tadi malam wanita pengusaha asal Pangandaran, Susi Pudjiastuti dan beberapa tokoh Bandung tiba di Meulaboh. Demikian laporan Machmud Mubarok, wartawan koran ini dari Meulaboh.
Susi berencana membantu masyarakat korban bencana dengan program perikanan serta bertekad terus membantu menyalurkan bantuan makanan dan obat-obatan. Pengusaha sukses itu berencana hari ini, Kamis (27/1) meninggalkan Meulaboh kembali ke Pangandaran.
Sementara kapal induk USS Abraham Lincoln yang tadinya berada di dekat Pulau Sabang, dilaporkan berlayar ke perairan internasional. Jet-jet tempur canggih yang diangkutnya, seperti FA-18 Super Hornet, kemarin menggelar latihan rutin.
Yang masih bertahan di Meulaboh tinggal tentara dari Prancis dan Jepang. Sebagian mereka bekerja sebagai tenaga medis bersama staf Unicef dan UNHCR.
Penampakan terakhir serdadu AS di Meulaboh adalah Selasa (24/1) siang ketika mereka membersihkan jalan di wilayah Kecamatan Meureubo. Sorenya ternyata mereka kembali ke kapal perangnya yang buang sauh di lepas pantai.
Sementara tim Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan Letjen (Purn) Solihin GP atau Mang Ihin, Kamis (27/1) pagi ini mengakhiri misi di Meulaboh. Rombongan dan kendaraan pengangkut logistik kembali ke Bandung lewat rute ketika berangkat.
Aksi pamungkas JPA digelar kemarin siang di Desa Cot Mesjid, Kec Samatiga, Kab Aceh Barat. Sebanyak 6.000 pasang sepatu baru, pakaian pantas pakai, bahan pangan dan air kemasan plastik dibagikan di salah satu kamp pengungsian di desa itu.
Desa Cot Mesjid terletak sekitar 25 km sebelah barat Meulaboh, sebelum Teunom. Wilayah ini bisa dicapai sekitar satu jam perjalanan dari Meulaboh karena jalan ke wilayah itu sebagian rusak berat. Bantuan JPA diterima sekitar 750 KK pengungsi.
"Besok kita pulang Bandung. Misi untuk sementara kita akhiri. Kita akan konsolidasi untuk menyiapkan aksi tahap berikutnya," kata Mang Ihin kepada Metro sepulang dari Desa Cot Mesjid, Kec Samatiga.
Situasi di Meulaboh sendiri makin hari makin membaik. Aktifitas masyarakat dan perdagangan mulai normal. Kemarin malah suasana kota yang porak poranda terlihat sangat meriah dengan lalulalangnya para pelajar.
Sekali pun kemarin dicanangkan sebagai hari dimulainya aktifitas belajar mengajar, namun yang terlihat baru pendataan siswa dan konsolidasi para gurunya. Sejumlah sekolah yang luput dari kerusakan masih dipakai para pengungsi.
Di Samatiga, bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) malah separo ruangan dipenuhi pengungsi. Kepala Sekolah MIN Samatiga, Ny Sa'adah mengaku masih bingung, karena tak mungkin mengusir para pengungsi itu.
"Karena itu hari ini kita belum bisa mulai belajar mengajar. Mungkin baru Senin depan semua normal. Dengan catatan para pengungsi ini sudah direlokasi ke tempat-tempat yang disediakan," kata Ny Sa'adah.
Sementara evakuasi mayat dan pembersihan puing-puing kota masih dilakukan relawan lokal dan aparat TNI. Sebagian tentara Prancis juga ikut membantu. Di kawasan Ujung Karang, tepatnya di bekas asrama polisi, kemarin ditemukan jasad seorang anak.
Jasad itu tinggal tulang dan kulit yang melilit kerangka mayat itu. Para pekerja kemanusiaan dan warga setempat memperkirakan masih ada ratusan mayat yang tertimbun reruntuhan, atau berada di tempat-tempat yang belum terjamah manusia.
Di sepanjang pesisir Meureubo, diduga ada ratusan jenazah tertimbun sampah di bekas perkebunan sawit dan karet. Kawasan yang tadinya penuh pepohonan itu kini ludes seperti habis disapu api.
Dan, hingga kemarin, belum ada satu pun relawan, warga atau aparat TNI/Polri yang menjamah lokasi itu. Begitu juga di sepanjang pesisir Samatiga. Saat bencana terjadi, air laut menerjang masuk daratan hingga 3 kilometer dari pantai.(*)

LAPORAN DARI MEULABOH: MACHMUD MUBAROK

Sederet Cerita Seram di Pantai Ujung Karang
RABU (26/1). Genap sebulan sudah malapetaka dahsyat gempa dan tsunami menerjang pesisir barat dan timur Aceh, Sumut, Srilangka, Thailand, Myanmar, dan beberapa negara di Tanduk Afrika.
Di bibir pantai Desa Pasir, saya hanya bisa membayangkan bagaimana ombak laut setinggi 15 meter datang menerjang, mencabik pantai dan daratan Meulaboh laksana ular kobra membunuh mangsanya.
Sebulan pula waktu berjalan, dan saya menyaksikan kepedihan warga Meulaboh mulai ditelan kesibukan mereka merajut masa depan. Pagi itu pula, saya menyaksikan keramaian begitu rupa di kawasan Johan Pahlawan.
Pelajar mulai SD sampai SMU hilir mudik, jalan kaki, naik sepeda angin, sepeda motor, bercampur baur dengan warga yang hendak ke pasar, dan relawan-relawan yang memulai kegiatannya di kota itu dan sekitarnya.
Denyut kehidupan Meulaboh makin hidup, dan saya merasa mereka seperti tak pernah mengalami kejadian apa-apa. Semuanya mengalir, dan ada banyak rona cerah, kembang senyum di wajah anak-anak muda itu.
Sebentar merasakan suasana pagi di tepian Samudera Hindia, saya kembali ke kamp JPA di lapang dekat markas Kompi Senapan C Yonif 122/Dharma Jaya. Hari itu tim JPA akan bergerak ke Kecamatan Samatiga untuk memungkasi misi kemanusiaan mereka.
Tiba di dekat kamp, saya mulai merasakan ada perbedaan suasana. Terutama di lapang Yonif 122. Setiap pagi di hari-hari sebelumnya, deru baling-baling helikopter AS dan Singapura selalu membangunkan tidur saya.
Tapi sepagi itu tidak. Saya tidak tahu apakah memang operasi udara itu sudah diakhiri atau tidak. Yang jelas, selama empat hari terakhir di Meulaboh, lalulintas udara dimulai sejak pagi-pagi.
Entah mereka terbang ke Medan atau Banda Aceh, atau mendrop logistik ke daerah-daerah di sekitar Meulaboh dan Calang. Sebulan waktu berjalan, situasi memang sudah bergerak jauh ke arah lebih baik.
Normal, rasanya juga tak mungkin karena pasok listrik masih digilir, fasilitas komunikasi masih terbatas, dan sarana umum banyak yang hancur, berikut perangkat ribuan sumber daya manusianya yang lenyap disapu air bah.
Pada laporan kali ini saya ingin sedikit membagi cerita seperti apa suasana Meulaboh sore hingga malam hari. Pusat keramaian utama di kota yang porak poranda itu sepenglihatan saya ada di kedai-kedai kopi.
Di beberapa penggal jalan yang luput dari jarahan air laut, juga tiap sore ramai oleh anak-anak, pemuda, dan orang tua yang nongkrong melepas hari. Kedai kopi jadi tempat favorit karena kebiasaan minum kopi warga Aceh sangat kuat.
Tempat-tempat kongkow pemuda dan orang tua sembari membakar berbatang-batang rokok itu bisa bertahan hingga cukup larut. Lepas pukul 21.00, baru suasana berangsur lengang, dan tengah malam hingga pagi cuma kesunyian yang ada.
Deru kendaraan terkadang ada, tapi kebanyakan kendaraan relawan lokal maupun asing, dan aparat keamanan yang patroli keliling kota. Sarana hiburan sama sekali tak ada karena siaran televisi dan radio terbatas.
Wilayah paling senyap yang saya dengar dari warga adalah kawasan pantai Ujung Karang. Lepas pukul 21.00, tak ada satupun warga Meulaboh yang berani menginjak tempat itu. Kisah-kisah yang saya dengar sungguh mendirikan bulu kuduk.
Katanya tiap malam suka terdengar suara tangis bayi, anak-anak menjerit minta tolong, erangan perempuan minta tolong, dan macam-macam. Kerusakan di Ujung Karang seperti yang pernah saya lihat dua hari sebelumnya, memang dahsyat.
Tak satupun dari ratusan rumah tembok tersisa. Semua tinggal pondasi atau lantainya, itu pun banyak yang jebol. Sebuah asrama polisi tandas nyaris tak bisa dikenali. Tumpukan sampah menggunung, bau busuk sesekali meruap.
Saya tertantang mendengar kisah-kisah "dunia lain" itu, tapi saya belum cukup waktu untuk membuktikannya. Kisah-kisah mistis serupa juga saya dengar di beberapa tempat. Bahkan saya juga dengar cerita seperti ini muncul di Thailand.
Yah, semua memang serba mungkin terjadi di tempat yang "abnormal" seperti Meulaboh ini. Tapi saya berpikir positif, trauma luar biasa menyusul malapetaka yang tak pernah terbayangkan orang sebelumnya inilah yang menyebabkannya.
Separo hari kemarin, saya akhirnya menghabiskan waktu di wilayah Samatiga. Daerah ini juga menderita kerusakan sangat parah di pesisirnya. Bahkan di area selebar tiga kilometer dari pantai ke daratan rusak binasa.
Desa Cot Mesjid yang dikunjungi tim JPA terletak di perbukitan, dan luput diamuk air laut. Tapi gempa merobohkan sebagian besar bangunan di wilayah ini. Tenda pengungsian dibuat di lapangan desa itu.
Di tempat inilah sekali lagi saya menyaksikan wajah-wajah mengenaskan anak-anak berbagai kampung dan desa yang lolos dari maut. Juga orang-orang tua, laki perempuan, yang terperangkap di tenda-tenda menunggu datangnya bala bantuan.
Harta benda, bahkan jiwa-jiwa di keluarga mereka musnah dilahap air laut. Tapi senyum anak-anak itu, polah lucu mereka ketika menerima sepatu-sepatu baru dari Mang Ihin sejenak menghapus awan duka di Samatiga.(*)

Laporan dari Calang, Machmud Mubarok -- kasih headshot mac

Wanita Asal Majalaya di Calang Itu Selamat
KAMIS (27/1). Malam itu suasana di Meulaboh terasa sedikit berbeda. Saya benar-benar merasa sendiri setelah rombongan Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan Letjen (Purn) Solihin GP atau Mang Ihin meninggalkan Meulaboh.
Malam terasa kian panjang. Apalagi esok harinya saya akan menempuh perjalanan panjang menuju Calang, bekas ibukota Kabupaten Aceh Jaya, yang kabarnya telah musnah.
Saya sulit menutupi rasa khawatir saya karena tak ada fasilitas komunikasi di kota itu. Saya akan menuju ke wilayah yang sama sekali terisolir dari dunia luar.
Tapi rasa lelah di pikiran saya membuat saya akhirnya pun jatuh tertidur. Bangun ketika adzan subuh berkumandang. Seusai salat subuh dan menelan beberapa batang biskuit, saya memeriksa perlengkapan.
Ransel besar yang selama ini cuma saya simpan di posko JPA di dekat markas Kompi Senapan C Yonif 122/Dharma Jaya, kembali saya bawa dan saya isi dengan logistik sepenuh yang saya bisa. Sekitar pukul 09.00, ditemani dua orang asal Meulaboh, Tunaryo (30) dan Mansyur (40), kami pun menuju pantai.
Di sana sudah menunggu boat kecil yang sudah penuh sesak penumpang. Boat yang biasa ditumpangi sekitar 20 orang, saat itu terisi 40 hingga 45 penumpang. Semuanya hendak menuju Calang. Tunaryo dan Mansyur berangkat ke Calang untuk mencari sanak keluarga mereka yang dikabarkan hilang.
Mansyur adalah seorang anggota polisi, namun terpaksa menanggalkan identitas polisinya karena Calang adalah basis GSA (Gerakan Separatis Aceh). Perlu waktu lima jam untuk sampai di Calang melalui jalan laut ini.
Ombak besar dan kapal kecil sarat penumpang yang selalu oleng ke sana-kemari, membuat perjalanan Meulaboh-Calang terasa sangat menegangkan. Laut seperti berlobang saja. Hempasan kapal yang "anjlok" lantaran ritme gelombang yang tak menentu, membuat saya hampir muntah-muntah.
Sekitar pukul 15.00, kami pun mendarat di Pantai Bate Tutung. Bersama Mansyur dan Tunaryo, kami berjalan kaki lebih dari tiga kilometer menuju Posko Pemda dan PMI. Ransel besar yang berat lantaran diisi penuh dengan logistik, membuat pundak terasa sakit dan ngilu-ngilu.
Berbeda dengan di Kota Meulaboh, di mana di sebagian wilayahnya masih terlihat bangunan utuh, Calang benar-benar rata dengan tanah.
Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah tanah merah yang dipenuhi tenda dan barak-barak pengungsi. Dan, hingga saat itu, masih belum ada kepastian di mana saya akan beristirahat pada malam hari.
Tak lama setelah tiba dan beristirahat sejenak di Posko PMI di "pusat kota", kami bertiga lantas melanjutkan perjalanan, mengitari Gunung Carak menyusuri tenda-tenda pengungsi.
Dalam perjalanan ini, kami disertai relawan PMI yang setiap harinya selalu berkeliling sambil membawa telepon satelit dan mengumpulkan data pengungsi. Di Calang saya tak diizinkan berjalan sendirian, karena wilayah Calang terhitung rawan dan banyak dihuni anggota GSA.
Ada yang menarik dalam perjalanan di Calang ini. Di salah-satu tenda pengungsi di Desa Dayah Baru, saya bertemu dengan Husaini Husain (36), warga Calang yang menikah dengan Yanti Fariska (32), wanita asal Majalaya.
Menurut Husaini, ia beserta anak dan isterinya baru kembali ke Calang sekitar lima bulan lalu, karena tiga tahun sebelumnya sejak ia dan isterinya menikah, mereka tinggal di Majalaya.
Meski nadanya masih terpatah-patah, Husaini terhitung lumayan menguasai bahasa Sunda. Ia spontan bercakap-cakap dalam bahasa Sunda begitu tahu saya dari Bandung.
Husaini bercerita, sejak tsunami menerjang Aceh, isterinya yang tinggal di tenda lain, sekitar dua kilometer dari tempat di mana saya dan Husaini bertemu, selalu murung.
Terlebih, anak sulung mereka, Yohana (3), hingga kini tak tentu rimbanya lantaran terlepas dari dekapan Husaini saat air bah menggulung. Beruntung anak bungsu mereka, Hajril Muhammad (1), selamat.
"Isteri saya terus murung. Mungkin kalau bertemu sama Kang Machmud dan bercakap-cakap dalam bahasa Sunda, isteri saya bisa sedikit terhibur. Saya berharap Kang Machmud bisa menemui isteri saya," kata Husaini.
Saat itu saya langsung menyanggupi, dan berencana menemuinya sepulang dari Rigay, wilayah lain di Calang, yang untuk melaluinya harus menggunakan perahu motor selama 35 menit.
Hingga sekarang saya merasa sangat berdosa, karena sepulang dari Rigay saya tak bisa menemui Yanti Fariska. Waktu yang terbatas membuat saya berdisiplin dengan rencana perjalanan. Saya langsung menuju Posko PMI.
Menurut Husaini, mertuanya di RT I RW 4, Kampung Babakan Campa, Desa Panyadap, Solokan Jeruk, Majalaya, yakni M Dahya dan Ibu Uway, hingga kini belum mengetahui nasib mereka.
"Teman Kang Machmud di Bandung mungkin bisa membantu untuk menyampaikan kepada mereka bahwa kami selamat. Kabarkan pula bahwa kami baik-baik saja, dan sekarang masih mencari Yohana yang hingga kini masih belum diketahui nasibnya," pinta Husaini.(*)

Inong Balee Nyusup ke Pengungsian
Calang, Metro
Inong bale (wanita tentara anggota Gerakan Separatis Aceh), disinyalir mulai menyusup ke tenda-tenda pengungsi di Calang, Kab Aceh Jaya. Mereka mengintimidasi para pengungsi untuk meminta obat-obatan dalam jumlah yang tidak wajar.
Obat-obatan yang diminta, kebanyakan antibiotik serta obat luka. Wartawan Metro, Machmud Mubarok, yang Minggu (30/1) pagi tiba di Banda Aceh dari Calang melaporkan, berita itu diungkapkan sejumlah relawan PMI yang sudah lama bertugas di sana.
Meski sejauh ini belum terdapat bukti konkret, kecenderungan itu menurut mereka terlihat jelas dari drastisnya peningkatan permintaan obat oleh para pengungsi di setiap posko. Di wilayah itu anggota GAM dan rakyat biasa sulit dibedakan.
Selain itu bunyi tembakan masih kerap terdengar di sekitar Calang. Calang adalah salah satu kawasan hitam basis GAM. "Terakhir yang saya tahu, kontak senjata itu terjadi Jumat malam dari arah Gunung Carak," lapor Mubarok lewat telepon.
"Kondisi di Calang memang sangat menegangkan. Kami tak berani jalan sendirian, apalagi di waktu malam. Saat matahari terbenam, rata-rata semua sudah berada di tenda atau di lingkungan tenda pengungsian," lanjutnya.
"Bahkan ada kabar dua anggota Marinir diculik GSA, dan hingga kini belum diketahui nasibnya," tambah Machmud dalam laporannya.
Namun demikian, di siang hari kehidupan di wilayah porak poranda itu mulai menggeliat. Sekolah mulai berjalan, meski dengan kondisi sangat darurat.
Secara umum, situasi di sepanjang pesisir barat Aceh yang hancur juga makin membaik. Di Banda Aceh dan sejumlah kawasan lain, evakuasi mayat terus dilakukan.
Jumlah jenazah yang dikebumikan hingga Minggu (30/1) sore telah lebih dari 106.700 orang. Data Satgas Operasi Kemanusiaan TNI di Aceh menyebutkan, penemuan jenazah masih terus terjadi di berbagai lokasi.
Mayat-mayat itu langsung dimakamkan setelah dievakuasi ke tempat penguburan dari lokasi ditemukannya mayat itu yang umumnya di bawah reruntuhan bangunan.
Sementara itu, jumlah korban hilang tidak menurun yang menunjukkan bahwa para korban tidak ditemukan meski tsunami telah berlalu lebih dari sebulan. Jumlah korban hilang sampai sekarang ini menacapi 132.172 orang, sementara para pengungsi berjumlah 412.438 orang.
Sejumlah penduduk Aceh yang kehilangan anggota keluarganya mengatakan, mereka telah melakukan pencarian ke mana﷓mana, terutama kamp﷓kamp pengungsi di berbagai wilayah Aceh dan Medan, namun tidak menemukan korban.
Sementara itu, pembersihan kota tetap dilaksanakan dengan mengerahkan ratusan truk untuk mengangkut puing﷓ puing reruntuhan dan tumpukan lumpur serta sampah ke luar kota.
Tumpukan lumpur dan puing﷓puing bangunan di Banda Aceh, misalnya, diangkut ke arah Syah Kuala atau Kajhu, Aceh Besar.
Pembersihan kota dan evakuasi mayat terus dilaksanakan pasukan TNI, militer asing termasuk mereka yang dari Malaysia, dan para relawan seperti anggota PMI.
Meski demikian, tumpukan lumpur dan reruntuhan masih terdapat di berbagai wilayah, dan ditargetkan baru selesai dilaksanakan selambat﷓lambatnya akhir Maret mendatang.(ant)

Laporan Machmud Mubarok dari Calang

Dikejutkan Suara Tembakan
DUA malam saya menginap di tempat pengungsian Calang, ibukota Aceh Jaya. Kebetulan, ada tenda relawan PMI yang tidak digunakan pada malam hari. Walau bocor di sana sini saat Calang diguyur hujan, terus nyamuk Calang yang besar﷓besar kerap menggigit, saya tetap menikmati tidur di tenda bantuan dari Kuwait itu.
Saya merencanakan meninggalkan Calang, Minggu (30/1), karena data, situasi dan kondisi, serta pengamatan di lapangan dirasa sudah cukup. Lebih dari itu, saya mengkhawatirkan cara keluar dari Calang. Informasi dari teman﷓teman offroader Bandung yang sempat bertemu saya di Meulaboh menyebutkan, masuk ke Calang itu
lebih mudah daripada keluarnya.
Mereka sendiri bisa keluar Calang setelah "menjaminkan" satu truk defender yang berfungsi sebagai ambulans dan kembali ke Meulaboh menumpang Hovercraft Amerika. Sementara saya, apa yang bisa saya jadikan jaminan supaya bisa keluar dari Calang?
Handphone Nokia 2100 saya yang di Calang tidak berdaya itu? Atau ransel dan topi rimba Eiger saya? Perhitungan saya, boat﷓﷓begitu orang Aceh menyebut kapal motor atau perahu yang membawa saya dari Meulaboh--sudah ada kembali di Pantai Batee Tutung, Calang, Minggu pagi, dan langsung berlayar kembali ke Meulaboh.
Namun pengalaman buruk, mual dan pening selama lima jam dari Meulaboh ke Calang, membuat saya mencari cara lain untuk meninggalkan Calang. Lewat udara, itulah satu﷓satu jalan yang sepertinya tidak akan membuat saya mabuk, kecuali pusing memikirkan cara supaya bisa naik heli itu sendiri.
Akhirnya, sejak Sabtu sore saya bergerilya mencari informasi bagaimana caranya bisa naik helikopter yang biasa mendarat di helipad buatan Marinir itu. Seorang kawan, relawan PMI, menyarankan saya untuk melobi Mayor Supriadi, di dekat helipad. Soalnya dia yang biasanya mengatur lalu lintas udara di Calang. "Kamu jangan tanya boleh ikut naik heli. Itu jawabannya sudah pasti tidak boleh. Coba tanyakan, ada tidak heli yang berangkat ke Meulaboh atau Banda Aceh," saran kawan relawan PMI itu.
Namun karena terburu malam, saya pun tak sempat bertemu Mayor itu. Semalaman saya terus memikirkan cara melobi orang﷓orang Marinir. Selain itu, saya pun membulatkan tekad, kemana pun tujuan heli, baik ke Meulaboh, Banda Aceh, atau Medan, saya tetap ikut. Pokoknya keluar dari Calang.
Setelah semalaman tertidur, dan sempat dikejutkan suara tembakan dari arah hutan Gunung Carak, kabarnya ada kontak senjata antara pasukan Marinir dan GAM, saya bangun dan segera membereskan perlengkapan yang saya bawa.
Ketika matahari mulai unjuk diri, saya bergegas menuju ke helipad di sebelah barat. Di sana, di dekat helikopter TNI AL, ada empat orang kru yang tengah membersihkan heli. Salah seorang kru yang berambut cepak dan bercelana pendek menjawab ketus ketika saya
tanyakan ada penerbangan ke Meulaboh atau Banda Aceh. "Enggak tahu," jawab orang itu tanpa sedikit pun melihat saya.
Saya tak menyerah. Tiga kru lainnya saya tanyai juga dan hasilnya sama, "Enggak tahu." Saya lalu melihat ke sekeliling. Memang di sekitar helipad itu masih sepi, belum ada kegiatan apapun, kecuali empat kru heli TNI AL itu. Tak lama, dari arah Markas Detasemen Marinir, keluar dua orang lelaki dengan memakai pakaian
penerbang TNI AL (warna abu﷓abu gelap). Saya perhatikan mereka ini perwira TNI AL. Satu yang mengenakan peci haji, berpangkat kapten, sementara seorang lagi yang terlihat lebih muda, berpangkat Lettu.
Siapa tahu ngobrol dengan perwira mah lebih rasional, saya mendekati mereka lalu menanyakan soal heli ke Meulaboh atau Banda Aceh. Memang jawabannya serupa dengan empat kru itu, tapi ada tambahan keterangan. "Kang, kalau helikopter ke Meulaboh atau Banda Aceh, biasanya di helipad yang satu lagi," ujar penerbang
berpangkat Lettu sambil menunjuk ke arah timur.
Dipanggil Kang oleh perwira itu, saya menduga orang itu dari Jabar dan balik berbicara dalam bahasa Sunda. "Oh, hatur nuhun kang, biasana tabuh sabaraha nya helikopterna dongkap (Oh, terimakasih, bisanya pukul berapa helikopternya datang)," tanya saya.
Sang perwira penerbang ini pun menjawab lagi dengan bahasa ibunya. "Teu tangtos Kang, cobian we diantosan di ditu (Tidak tentu kang, coba saja tunggu di sana)," kata perwira yang tidak sempat saya cari tahu namanya itu.
Pikiran mulai kacau, karena rencana yang saya susun jadi berantakan. Saya pun kemudian berpikir untuk keluar dari Calang memakai boat. Saya tanya seorang warga pengungsi kemungkinan
masih ada tidak boat di Pantai Batee Tutung.
"Wah, sudah siang begini pasti sudah berangkat. Biasanya kan
jam delapan perginya," jawab warga itu yang membuat saya lesu. (*)

Laporan Machmud Mubarok dari Calang

Untung Ada Heli Malayasia
SAYA berjalan melewati Lumpur﷓lumpur tebal menuju tenda relawan PMI. Perasaan mulai galau, apakah saya bisa keluar dari Calang. Tapi, tiba di sana, saya justru mendapat informasi yang menggembirakan.
Saat itu, sebuah kapal motor besar tengah berlabuh di pantai barat Calang membawa muatan untuk PMI. Ghofur, seorang relawan PMI asal Purwakarta, menyebutkan, setelah bongkar muatan, kapal motor itu akan menuju ke Banda Aceh.
Belum selesai saya menimbang﷓nimbang mana yang jalan yang harus diambil, dari arah Barat, menderu sebuah helikopter warna putih dengan polet biru dan akan mendarat di helipad sebelah barat.
Waktu saya tanya itu helikopter itu mau kemana, Ghofur mengatakan, helikopter itu akan membawa bantuan dan relawan PMI ke Phanga, lalu kembali ke Banda Aceh.
Mendengar kata Banda Aceh, sontak kesadaran saya terbangun kembali. Saya lalu bertanya kembali kepada Ghofur untuk menegaskan kembali tujuan helikopter itu. Ternyata tujuan heli itu akan ke Phanga, lalu pulang kembali ke Banda Aceh.
Tak perlu pikir panjang lagi, saya pun bergegas mengambil ransel besar saya dan bersalaman dengan beberapa relawan PMI yang ada di dekat tenda. "Oke, saya mau coba pakai helikopter itu, siapa tahu
terbawa," seru saya sambil mengucapkan terima kasih kepada para relawan PMI itu.
Sambaran angin dari baling﷓baling helikopter putih itu membuat topi saya berkibar ketika saya mendekat. Di samping kiri heli, tampak seorang awak helikopter berpakaian oranye mengenakan headphone mengatur barang﷓barang yang harus dinaikkan ke dalam heli.
Saya pun mendekatinya, lalu sambil berteriak mengatakan saya mau ikut helikopter ini ke Banda Aceh. Eh, ternyata dia mengangguk tanda setuju, sambil menyuruh saya menyimpan dulu ransel.
Sambil mengangkuti barang﷓barang milik PMI, sekilas saya melihat badge bendera Malaysia di bahu kiri awak heli. "Oh, ternyata ini helikopter punya Malaysia," kata saya, dalam hati.
Setelah semua barang milik PMI terangkut, saya lalu menunjuk ransel saya yang masih teronggok di tanah. Lagi﷓lagi dengan penuh keramahan, awak heli itu menganggukkan kepala dan dengan isyarat tangan menyuruh saya agar membawa ransel masuk ke dalam heli.
Saya pun segera naik heli yang seumur﷓umur baru kali itu saya rasakan. Saya simpan ransel di dekat pintu belakang, tepatnya dekat tabung pemadam kebakaran. Lalu saya memilih tempat duduk di bagian tengah, supaya leluasa melihat ke segala arah.
Tapi rupanya persoalan belum beres. Sang awak heli yang menempati bagian belakang itu berkata kepada Komandan Relawan PMI, Hengky, bahwa penumpang yang diperbolehkan naik hanya dua orang. Sementara di dalam heli, sudah ada enam orang penumpang, termasuk saya.
Saat itu saya sudah punya pikiran buruk, "Wah, pasti saya yang dikeluarkan dari heli. Soalnya saya bukan relawan PMI." Hengky lalu berbicara dengan Mr Ian, supevisor dari IFRC (International Federation Red Cross and Red Cressent) yang juga turut dalam rombongan relawan PMI membawa barang bantuan.
Setelah itu dia melihat ke arah saya yang sudah dalam posisi duduk manis. "Tolong mas, utamakan dulu relawan PMI. Mas kan mau ke Banda Aceh, heli ini mau ke Phanga dulu kirim bantuan. Sekarang turun, baru nanti dijemput heli ini ke Banda," kata Hengky, yang asal Sumbar itu, tajam.
Ditodong begitu rupa, tentu saya tidak punya alasan kuat untuk ngotot ikut heli. Tapi begitulah, rupanya Dewi Fortuna sedang iba melihat saya. Ketika Hengky turun dari heli dan menyuruh saya juga turun, saya tetap tak beranjak dari tempat duduk. Lalu awak heli, belakangan saya baca nametag-nya tertulis nama Abdul
Karim, yang tugas di bagian belakang itu, malah menyuruh beberapa orang lagi untuk naik. Dia lalu memberi kode agar saya tidak ikut turun, sambil menutup pintu helikopter bagian belakang yang memang khusus untuk jalur penumpang. (*)

Laporan Machmud Mubarok dari Calang

Nyaris Turun di Phanga
SEKITAR pukul 09.56, heli pun mengudara dan saya pun bersyukur akhirnya bisa terangkut heli itu. Suara baling﷓baling heli yang memekakkan memaksa seluruh penumpang, kecuali saya, memakai headphone di telinga.
Saya sengaja tidak pakai headphone, karena kenyataannya telinga saya sudah pekak ketika baling﷓baling heli berputar kencang, jadi tak perlu lagi alat peredam di telinga.
Barulah setelah mengudara, saya mengetahui jenis heli tersebut. Heli Sikorsky S61N, biasanya buatan Rusia. Di atas pintu depan yang terletak di sisi kanan, tertera tulisan MSH Aviation. Kalau melihat badge di bahu kiri awak heli, kemungkinan heli itu milik salah satu maskapai penerbangan di Malaysia.
Selain itu, awak heli, Abdul Karim dan seorang lagi yang kebagian tugas di bagian depan, sama﷓sama brewokan dan rada﷓rada mirip Sultan Brunei Hasanal Bolkiah, sehingga makin meyakinkan saya kalau mereka memang dari Malaysia.
Di dalam heli ada delapan kursi penumpang, dan saya menempati kursi nomor empat dari depan. Sementara si awak heli baik hati, Abdul Karim, duduk tepat di belakang saya. Tak lama mengudara, Abdul Karim menepuk pundak saya sambil menyodorkan kertas list passenger.
Rupanya, walau gratisan, tetap saja penumpang harus didata. Saya pun penuh semangat menuliskan nama di urutan pertama. List pun diedarkan ke depan, lalu balik lagi ke belakang.
Dari Calang, heli ini mengangkasa ke Phanga, yang berada di sebelah tenggara. Saya merasa beruntung membawa peluit multifungsi yang ada kompas dan termometernya, sehingga mudah menentukan arah dan suhu udara.
Saya merasa heli bergerak perlahan menyusuri pantai barat Aceh ini. Bulu kuduk saya merinding ketika melihat ke bawah, ke arah daratan. Dari ketinggian itu, sangat kentara kehancuran yang disebabkan tsunami. Pohon﷓pohon meranggas, tanah memerah,
gersang. Genangan air terlihat masuk jauh ke daratan. Jalan antara Calang﷓Phanga, putus di sejumlah titik.
Terlihat pula dari helikopter ini, sejumlah anggota TNI sedang menyebrangi jalan yang putus itu menggunakan rakit yang ditarik tali. Jantung saya makin berguncang, menyaksikan di tepian jalan﷓jalan tak ada satu pun rumah atau pemukiman. Padahal kabar yang saya terima dari warga Calang, sebelum ke Phanga, harus melewati dulu Krung Sabee, sebuah kecamatan yang lumayan banyak penduduknya.
Pukul sepuluh lebih lima menit, helikopter mulai merendah dan tampaklah beberapa tenda warna hijau dan biru di dekat helipad. Mungkin ini yang disebut Phanga, karena heli memang mendarat di sini.
Setelah pintu depan dibuka, awak heli segera memerintahkan relawan PMI untuk cepat mengeluarkan barang﷓barang. Saya pun kembali turut membantu, supaya cepat beres. Tak disangka, begitu semua barang sudah keluar, awak heli yang di bagian depan ini juga menyuruh saya untuk turun. "Ini Phanga, kamu turun,"
kata awak ini.
Tentu saja saya kaget. Yang terpikir oleh saya waktu itu, bukan pertanyaan kenapa diturunkan, tapi yang terbayang adalah GAM. "Wah, celaka 12 kalau diturunkan di Phanga. Ini kan salah satu basis GAM. Kabarnya marinir sudah meminta tambahan bantuan dari Calang untuk menahan gerakan orang﷓orang GAM di Phanga ini.
Saya pun segera memberi penjelasan kepada awak heli yang satu ini. Mungkin dia tidak tahu, kalau tujuan saya adalah ke Banda Aceh. "No, no. I'm going to Banda," tangkis saya.
Tapi kemungkinan si awak ini salah dengar, karena dia tetap ngotot menyebut Phanga. "Ya, ini Phanga, Phanga, nanti mau ke Aceh". Nah itu dia, saya langsung menyambar omongan si awak heli ini.
"Ya, saya mau ke Banda Aceh," teriak saya. Begitu saya menyebut Banda Aceh, barulah si awak yang saya tak tahu namanya itu, mengacungkan jempol tanda OK. Akhirnya, pukul 10.10, Sikorsky S61N itu pun kembali mengudara, meninggalkan Phanga dan relawan PMI, dengan membawa seorang penumpang, saya sendiri. (*)

Laporan Machmud

Salam Tempel
Sebundel Koran
RUTE darat Banda Aceh﷓Medan melalui jalur timur saya tempuh dalam waktu 13 jam. Rabu (2/2) tengah malam, saya tiba di Kota Medan. Ketika itu, saya melewatkan malam di rumah seorang sahabat asal Cimahi yang sudah dua tahun bekerja di sana.
Keesokan harinya, saya sudah bersiap﷓siap untuk berangkat ke Meulaboh. Kota inilah yang menjadi tujuan pertama perjalanan saya dan rupanya sekaligus menjadi tempat terakhir. Alasan utama saya ingin menjajal jalan darat ke Meulaboh ini adalah ingin membuktikan cerita kawan﷓kawan relawan.
Ketika datang ke Meulaboh menempuh jalan darat, kawan﷓kawan relawan ini menyebutkan di sepanjang jalur pesisir pantai barat Aceh itu terdapat pos﷓pos aparat keamanan. Dan, di hampir seluruh pos itu, kendaraan yang mereka tumpangi harus menepi sebentar dan sang sopir pun menyelipkan uang ribuan ke tangan aparat.
Hal itu yang tidak saya jumpai saat menempuh jalur yang sama bersama rombongan Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan Solihin GP atau Mang Ihin.
Saya sudah bisa menebak mengapa kendaraan rombongan JPA saat itu tidak pernah diberhentikan di setiap pos di jalur Barat. Karena mereka dikawal 17 personel tentara dari Kodam Siliwangi, 12 dari Yonif 301/Prabu Kiansantang dan 5 dari Bekangdam III Siliwangi.
Di luar itu, alasan lain saya kembali ke Meulaboh yaitu adalah mengambil ransel yang tertinggal di rumah Pak Harun S, seorang pengawas di Dinas Pendidikan Aceh Barat, Ransel itu berisi barang﷓barang cukup penting, seperti beberapa rol negatif film, buku notes, dan beberapa helai pakaian.
Kamis (3/2) malam sekitar pukul 21.00, kendaraan travel L300 yang berisi 8 penumpang meluncur meninggalkan Kota Medan. Karena gelap ditambah hujan gerimis, saya tidak bisa menikmati pemandangan di
sepanjang jalan, seperti Brastagi. Kegelapan di luar sana membuat mata saya mengantuk. Akhirnya saya pun tertidur dan baru bangun sekitar pukul 04.30 ketika tiba di Sidikalang. Sekitar pukul 07.00, kendaraan sudah melaju di kawasan Aceh Selatan, tepatnya daerah Singkil.
Mulai dari daerah inilah, di sepanjang jalan terdapat pos﷓pos keamanan. Kabarnya situasi keamanan di jalur ini memang cukup rawan terhadap gangguan GAM, sehingga pos﷓pos keamanan pun banyak didirikan. Di situ pula aksi salam tempel sering terjadi. Sopir memberi sejumlah uang --biasanya hanya seribu atau dua ribu
rupiah-- kepada aparat yang tengah menjaga pos.
Seperti saya saksikan ketika masuk daerah Jambo Dalem, Kecamatan Trumon Timur. Empat kendaraan elf L300 di depan kendaraan yang saya tumpangi berhenti di sebuah pos. Semua saya kira ada pemeriksaan izin atau surat kendaraaan. Tapi begitu giliran kendaraan L300 yang saya tumpangi masuk dekat pos, sang sopir ternyata memberikan lembaran ribuan rupiah kepada si penjaga
pos dan kendaraan pun kembali melaju.
Tak jarang, sang sopir pun harus turun dari belakang kemudi. Ia kemudian menghampiri petugas dan memberikan "salam tempel seribu perak" kepada petugas. Selain uang, koran pun menjadi barang yang biasa diberikan pada petugas.
Menurut Zulfikar, sopir travel L300 yang saya tumpangi, para sopir trayek Medan﷓Meulaboh sudah biasa mempersiapkan uang ribuan dan sebundel Koran terbitan Medan. Selain harian Waspada, Koran yang mereka bawa antara lain Sumut Pos dan Pos Metro Medan. "Korannya juga kadang﷓kadang terbitan hari sebelumnya. Kalau dihitung, mungkin ada 30 pos yang mesti saya kasih uang dan koran itu. Gimana lagi, tidak ngasih, kita setiap hari lewat sini, pasti kena itu," tutur Zul.
Petugas yang berjaga di pos﷓pos ini selalu menyandang senapan. Karena masih pagi, kebanyakan mereka hanya mengenakan kaus, baik loreng maupun hitam. (*)



Laporan Machmud

Salam Tempel
Sebundel Koran
RUTE darat Banda Aceh﷓Medan melalui jalur timur saya tempuh dalam waktu 13 jam. Rabu (2/2) tengah malam, saya tiba di Kota Medan. Ketika itu, saya melewatkan malam di rumah seorang sahabat asal Cimahi yang sudah dua tahun bekerja di sana.
Keesokan harinya, saya sudah bersiap﷓siap untuk berangkat ke Meulaboh. Kota inilah yang menjadi tujuan pertama perjalanan saya dan rupanya sekaligus menjadi tempat terakhir. Alasan utama saya ingin menjajal jalan darat ke Meulaboh ini adalah ingin membuktikan cerita kawan﷓kawan relawan.
Ketika datang ke Meulaboh menempuh jalan darat, kawan﷓kawan relawan ini menyebutkan di sepanjang jalur pesisir pantai barat Aceh itu terdapat pos﷓pos aparat keamanan. Dan, di hampir seluruh pos itu, kendaraan yang mereka tumpangi harus menepi sebentar dan sang sopir pun menyelipkan uang ribuan ke tangan aparat.
Hal itu yang tidak saya jumpai saat menempuh jalur yang sama bersama rombongan Jabar Peduli Aceh (JPA) pimpinan Solihin GP atau Mang Ihin.
Saya sudah bisa menebak mengapa kendaraan rombongan JPA saat itu tidak pernah diberhentikan di setiap pos di jalur Barat. Karena mereka dikawal 17 personel tentara dari Kodam Siliwangi, 12 dari Yonif 301/Prabu Kiansantang dan 5 dari Bekangdam III Siliwangi.
Di luar itu, alasan lain saya kembali ke Meulaboh yaitu adalah mengambil ransel yang tertinggal di rumah Pak Harun S, seorang pengawas di Dinas Pendidikan Aceh Barat, Ransel itu berisi barang﷓barang cukup penting, seperti beberapa rol negatif film, buku notes, dan beberapa helai pakaian.
Kamis (3/2) malam sekitar pukul 21.00, kendaraan travel L300 yang berisi 8 penumpang meluncur meninggalkan Kota Medan. Karena gelap ditambah hujan gerimis, saya tidak bisa menikmati pemandangan di
sepanjang jalan, seperti Brastagi. Kegelapan di luar sana membuat mata saya mengantuk. Akhirnya saya pun tertidur dan baru bangun sekitar pukul 04.30 ketika tiba di Sidikalang. Sekitar pukul 07.00, kendaraan sudah melaju di kawasan Aceh Selatan, tepatnya daerah Singkil.
Mulai dari daerah inilah, di sepanjang jalan terdapat pos﷓pos keamanan. Kabarnya situasi keamanan di jalur ini memang cukup rawan terhadap gangguan GAM, sehingga pos﷓pos keamanan pun banyak didirikan. Di situ pula aksi salam tempel sering terjadi. Sopir memberi sejumlah uang --biasanya hanya seribu atau dua ribu
rupiah-- kepada aparat yang tengah menjaga pos.
Seperti saya saksikan ketika masuk daerah Jambo Dalem, Kecamatan Trumon Timur. Empat kendaraan elf L300 di depan kendaraan yang saya tumpangi berhenti di sebuah pos. Semua saya kira ada pemeriksaan izin atau surat kendaraaan. Tapi begitu giliran kendaraan L300 yang saya tumpangi masuk dekat pos, sang sopir ternyata memberikan lembaran ribuan rupiah kepada si penjaga
pos dan kendaraan pun kembali melaju.
Tak jarang, sang sopir pun harus turun dari belakang kemudi. Ia kemudian menghampiri petugas dan memberikan "salam tempel seribu perak" kepada petugas. Selain uang, koran pun menjadi barang yang biasa diberikan pada petugas.
Menurut Zulfikar, sopir travel L300 yang saya tumpangi, para sopir trayek Medan﷓Meulaboh sudah biasa mempersiapkan uang ribuan dan sebundel Koran terbitan Medan. Selain harian Waspada, Koran yang mereka bawa antara lain Sumut Pos dan Pos Metro Medan. "Korannya juga kadang﷓kadang terbitan hari sebelumnya. Kalau dihitung, mungkin ada 30 pos yang mesti saya kasih uang dan koran itu. Gimana lagi, tidak ngasih, kita setiap hari lewat sini, pasti kena itu," tutur Zul.
Petugas yang berjaga di pos﷓pos ini selalu menyandang senapan. Karena masih pagi, kebanyakan mereka hanya mengenakan kaus, baik loreng maupun hitam. (*)



LAPORAN MAC

19 Jam Medan-Meulaboh
ADA satu kejadian yang menarik perhatian saya, usai melewati sebuah pos di daerah Trumon Timur, kurang dari 500 meter dari pos sebelumnya hanya terhalang dua belokan, di dekat sebuah jembatan, tepatnya dekat SD Negeri Pinto Rimba.
Seorang laki﷓laki mengenakan kaos loreng, celana panjang hitam, dan sepatu boot ala pekerja, berdiri di pinggir jalan. Ia tak terlihat sama sekali menyandang senjata, baik senapan maupun pistol.
Sang sopir pun menjalankan kendaraan secara perlahan dan tangannya langsung melambaikan lembaran uang seribuan. Lelaki berperawakan kecil di pinggir jalan yang tampangnya tak mencirikan sebagai seorang anggota TNI itu pun menyambut uang seribuan itu.
Yang membuat saya sedikit heran, di dekat lelaki itu ada tiga orang perempuan berkerudung. Namun posisi mereka tidak menghadap ke jalan, tapi membelakangi arus kendaraan yang lewat. Memang tidak mudah menduga siapa mereka dan apakah benar lelaki itu aparat keamanan. Atau jangan﷓jangan saat itu saya sedang melewati pos bikinan GAM dan tiga perempuan itu adalah para Inong Balee, perempuan paramiliter GAM? Entahlah.
Di sepanjang jalan menuju Meulaboh itu, tak hanya pos aparat keamanan yang mesti dilewati dengan koran atau uang. Sejumlah mesjid yang tengah dalam pembangunan pun membuka kotak amal di tengah atau pinggir jalan. Sopir pun sudah mengerti, sehingga kotak﷓kotak amal itu pun mereka isi.
Saking banyaknya pos﷓pos penerima sumbangan dari sopir ini, saya sampai kelelahan sendiri mencatatnya. Hingga daerah Blang Pidie dan sebelum Meureubo Meulaboh, masih banyak dijumpai pos﷓pos aparat keamanan.
Dari pengamatan saya, yang membedakan jalur barat dengan timur yang beberapa hari sebelumnya saya lalui adalah selain urusan koran atau uang, plang﷓plang bertuliskan larangan untuk memberi atau melempar uang atau sesuatu ke pos TNI atau Brimob tidak banyak ditemukan.
Namun yang pasti cerita kawan﷓kawan relawan tentang jalur Meulaboh di pantai barat Aceh ini ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Saya merasakan sendiri bagaimana harus menempuh 19 jam perjalanan dari Medan ke Meulaboh dan waktu lebih banyak habis saat melewati pos﷓pos keamanan itu. (*)

Laporan Machmud dari Calang

Menjalin Cinta di Lokasi Pengungsi

NANGROE Aceh Darussalam dan Sumut di saat terkena bencana gempa dan tsunami, ibarat negeri para relawan. Di mana﷓mana, di sudut kota dan desa, bertebaran para relawan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Mereka mendatangi Serambi Mekkah itu dengan semangat kemanusiaan, membantu sesama manusia yang tertimpa musibah.
Banyak terdengar cerita keheroikan para relawan. Di luar cerita itu, terselip pula kisah romantis yang terjalin antara relawan, yang kebanyakan laki﷓laki, dengan gadis﷓gadis setempat, tempat mereka membantu para pengungsi.
Cinta lokasi atau cilok, begitu biasanya anak﷓anak muda atau mahasiswa yang tengah KKN (kuliah kerja nyata) menyebut percintaan yang terjadi di antara mereka dengan gadis desa itu. Hal itu pula yang terjadi di tempat pengungsian di Calang, pesisir pantai barat Aceh. Ibukota Aceh Jaya yang hancur lebur itu ternyata menyimpan kisah cinta antara relawan yang masih bujangan dengan para gadis Calang.
Calang adalah satu di antara daerah di Aceh yang paling parah terkena gempuran gelombang tsunami. Dari ribuan penduduknya, hanya segelintir yang selamat. Selain itu, tsunami pun menyebabkan tempat ini terisolasi dari dunia luar, karena jalan﷓jalan dan jembatan menuju daerah lain, terputus.
Saya tiba di Calang, Jumat (28/1). Ketika itu, saya berjumpa dengan para relawan PMI gelombang ketiga yang berasal dari tiga provinsi, yaitu Sumbar, Bengkulu, dan Jabar. Bertemu dengan orang satu daerah, tentu menyenangkan.
Ibarat bertemu dengan saudara sendiri, saya pun segera larut dalam percakapan bahasa Sunda dengan para relawan PMI asal Jabar itu. Ada yang datang dari Indramayu, Cirebon, Sukabumi, Bogor, Sumedang dan Purwakarta. Mereka sudah bertugas selama lima hari
ketika saya datang. Karena kedekatan daerah ini juga, saya bisa mengorek lebih jauh soal kedekatan hubungan antara relawan dengan gadis﷓gadis di tempat pengungsian.
Abdul Ghofur (20), relawan PMI asal Purwakarta, curhat kepada saya. Ia mengaku kecantol seorang gadis Calang. Opi, begitu gadis pujaannya itu biasa dipanggil, adalah seorang pelajar SMA Negeri Krueng Sabee Calang. Ia seorang anggota PMR (Palang Merah
Remaja) di sekolahnya. Opi dan keluarganya selamat dari bencana itu. Kini mereka mengungsi di Gunung Carak.
Saat bantuan dan relawan berdatangan ke Calang, Opi merasa terpanggil. Siswa kelas dua itu pun lalu bergabung bersama PMI, membantu apapun yang bisa dikerjakannya. Bersama beberapa rekannya, juga anggota PMR, mereka membantu staf PMI di bagian mailing service (TMS). Bagian ini bertugas mendata keluarga pengungsi yang hilang dan selamat. Juga melayani telepon satelit bagi pengungsi yang akan menghubungi keluarganya.
Di sinilah rupanya cinta bersemi. Abdul Ghofur yang kebagian tugas di Dapur Umum dan logistik, sering berjumpa Opi di tenda TMS. Maklum, Ghofur pun dibebani tugas juga membantu petugas TMS mendata di lapangan. Abdul Ghofur sendiri menceritakan, proses mereka berpacaran tidaklah sulit. Ia pun baru mengenal Opi selama lima hari memulai tugas di Calang.
Namun kalau sudah terpikat, siapa yang tahan menyimpan perasaan itu. Ungkapan cinta pun langsung saja Ghofur sampaikan kepada gadis pujaannya itu.
"Padahal Opi ini banyak yang suka, terutama marinir﷓marinir itu. Ada saja alasan marinir itu untuk bertemu Opi, mau telepon lah, mengantar pulang lah. Saya sih oke﷓oke saja, sepanjang hati dia untuk saya," tutur pemuda lulusan SMA I Purwakarta setahun lalu itu dengan nada bangga.
Selain Ghofur, ada pula Doddy Faizal, relawan PMI asal Bengkulu. Mahasiswa Universitas Bengkulu semester lima itu mengaku menaruh hati pada Anna Irawan, seorang anggota PMR asal SMA Negeri Lamno. Walau sekolah di Lamno, Anna berasal dari Calang, hingga ia pun ikut membantu di tempat pengungsian di Calang.
"Waduh kalau saya tidak berani ngomong langsung. Hanya lewat surat saya ungkapkan perasaan saya pada Anna. Tapi sampai sekarang dia belum menjawab. Mungkin juga dia menolak cinta saya. Soalnya saya lihat﷓lihat, banyak juga relawan lain yang mendekati dia," ujar Doddy.
Tak hanya relawan yang agresif mencari pasangan. Ada pula gadis Calang yang justru lebih dulu menyatakan cintanya pada seorang relawan yang baru dikenalnya beberapa hari itu. Adalah Fatimah, teman satu sekolah Opi, yang tak malu menyatakan cintanya lebih dulu itu
"Saya sudah ngeceng waktu melihat pertama kali si kakak itu. Ya enggak apa﷓apa saya duluan yang nyatain, sama saja lah," ujar gadis yang biasa dipanggil Eva itu.
Namun Eva tahu pasti sang pujaan bakal kembali ke daerahnya masing﷓masing dalam waktu dekat. Tak heran, ia pun selalu menyenandungkan sebuah lagu berbahasa Aceh dengan judul "Payung Kenangan" milik Marlina Umar, penyanyi asal Meulaboh. Lagu itu berkisah tentang seorang gadis yang berpisah dengan kekasihnya. Walau cintanya begitu besar, tapi si gadis tak berdaya karena ditimpa derita yang membuatnya merana.
Begini bunyi lagu tersebut: "Selamat tinggai jantong hate loen yang loen sayang yang loen cinta, tapi jino ulun tersiksa, rela uloen abang bahagia. Kasih sayang jino kalaeh, diresang mepisah dua. Loen harap uro bengo trosepo ujung ditikai cot uro timang, Bati jino kameulaen kasih sayang kan metuka, tabahlam hate bati merana dendam loen hana. Kepeadanna bulen len bintang, malam nyotanyo hana mendua. Kepeadana rieuk gelumbang, abang loen sayang hana troteuka. Pemeuahu loen abang loen sayang, konse bahuon hana setia. tapi ulonnyo hana medaya, deritanyo cukup
merana". (*)